"[Data] fundamental ekonomi sangat bagus," kata dia. "Jadi indikator-indikator ekonomi juga semua bagus. Secara politik juga kita sangat kokoh."
Asisten Khusus Presiden bidang Komunikasi Dirgayuza Setiawan mengunggah foto Prabowo bersama Michael Bloomberg dengan keterangan panjang di akun media sosialnya. Unggahan tersebut nampak menjadi respons saat data survei presiden turun tajam.
Dia menulis Bloomberg bercerita kepada Prabowo tentang approval ratingnya yang menembus 60% saat memenangkan Pilkada New York. Namun, rating tersebut terjun hingga sekitar 20% usai Bloomberg mengeluarkan sejumlah kebijakan kontroversial dan berpolemik kala itu.
Beberapa di antaranya seperti larangan merokok di cafe, mengubah kawasan Times Square untuk pejalan kaki, pembangunan jalur sepeda, dan lainnya. Meski ditentang, kini kebijakan Bloomberg justru terbukti berhasil dan turut menjadi wajah modern New York.
Bloomberg, kata Dirgayuza, mengatakan approval ratingnya kembali ke angka 60% beberapa tahun usai lengser dari kursi wali kota New York. Hal ini terjadi saat warga New York sadar kebijakan kontroversial Bloomberg justru berhasil dan bermanfaat.
"Approval rating adalah protret sesaat. Legacy adalah penilaian sejarah," kata dia.
"Karena sering kali, kebijakan yang akhirnya mengubah dunia adalah kebijakan yang pada hari hari pertamanya justru paling banyak ditertawakan dan dicemooh."
Sebelumnya, Saiful Mujani Research and Consulting (SMRC) merilis hasil sigi yang digelar pada periode 5-19 Juli 2026. Data survei tersebut menampilkan tingkat kepuasan publik terhadap kinerja Presiden Prabowo Subianto berada pada angka 51,1%; atau turun dari hasil survei yang dikumpulkan pada November 2025 yaitu 81,2%.
Berarti, dalam kurun hanya sembilan bulan, tingkat kepuasan terhadap pemerintahan Prabowo anjlok hingga 30,1%.
“Penurunan tingkat kepuasan publik ini berhubungan erat dengan merosotnya sentimen positif terhadap kondisi ekonomi, politik, dan penegakan hukum,” kata Direktur Eksekutif SMRC, Deni Irvani.
Menurut dia, survei digelar dengan metode random sampling pada 749 warga negara Indonesia yang memiliki hak pilih pada pemilu. Margin of error survei ini mencapai 3,7%.
(dov/frg)





























