Grafik hasil penelitian menunjukkan volume tumor pada kelompok yang mendapat Ewingella americana turun hingga nol, sementara kelompok kontrol mengalami pertumbuhan tumor yang terus meningkat dan seluruh hewan uji mati sebelum hari ke-30.
Tak hanya itu, ketika tikus yang sembuh kembali dipaparkan sel kanker, tidak ditemukan pembentukan tumor baru. Hasil tersebut mengindikasikan kemungkinan terbentuknya respons imun jangka panjang terhadap kanker.
Melampaui Kemoterapi dan Imunoterapi
Tim peneliti kemudian membandingkan efektivitas Ewingella americana dengan dua terapi kanker yang telah digunakan secara luas, yakni imunoterapi berbasis penghambat checkpoint PD-L1 serta obat kemoterapi doxorubicin.
Kedua terapi tersebut memang mampu menghambat pertumbuhan tumor, namun efektivitasnya masih berada di bawah terapi menggunakan Ewingella americana dalam model penelitian tersebut.
Selain efektif, terapi bakteri ini juga dinilai tidak menimbulkan efek toksik yang signifikan. Pemeriksaan darah, parameter biokimia, hingga analisis jaringan organ tidak menunjukkan adanya kerusakan pada tikus yang menerima terapi.
Bekerja Sekaligus Aktifkan Sistem Imun
Peneliti menemukan bahwa bakteri tersebut bekerja melalui dua mekanisme utama. Pertama, Ewingella americana menghasilkan senyawa sitolisin (cytolysin), yaitu toksin yang mampu melubangi membran sel kanker sehingga menyebabkan kematian sel secara langsung.
Kedua, bakteri juga memicu aktivasi sistem kekebalan tubuh dengan merekrut berbagai sel imun, termasuk sel T, sel B, dan neutrofil, ke lokasi tumor. Aktivitas tersebut disertai peningkatan produksi molekul imun seperti interferon-gamma (IFN-γ) dan tumor necrosis factor-alpha (TNF-α), yang membantu tubuh menghancurkan sel kanker.
Menurut peneliti, kombinasi antara penghancuran langsung oleh bakteri dan aktivasi sistem imun menjadi faktor utama yang menghasilkan eliminasi tumor secara menyeluruh.
Masih Tahap Awal
Meski menunjukkan hasil yang menjanjikan, peneliti menegaskan temuan ini masih berada pada tahap praklinis dan belum dapat diterapkan pada manusia.
Model kanker yang digunakan dalam penelitian merupakan tumor yang ditanam di bawah kulit tikus, bukan kanker usus yang tumbuh secara alami di saluran pencernaan. Selain itu, efektivitas bakteri tersebut terhadap jenis kanker lain maupun dalam kombinasi dengan terapi yang sudah ada masih perlu diteliti lebih lanjut.
Apabila hasil serupa dapat direplikasi pada penelitian lanjutan dan uji klinis, pendekatan berbasis bakteri hidup berpotensi menjadi salah satu inovasi baru dalam terapi kanker yang memanfaatkan interaksi antara mikroorganisme dan sistem kekebalan tubuh manusia.
































