Logo Bloomberg Technoz

Absennya panduan kebijakan terbaru, ditambah dengan perpecahan di dalam komite, membuat investor memiliki sedikit kejelasan mengenai arah suku bunga ke depan. Ketidakpastian tersebut kemungkinan akan menjaga volatilitas tetap tinggi di pasar obligasi seiring para pelaku pasar mencermati data inflasi dan pertumbuhan ekonomi mendatang guna mencari petunjuk mengenai langkah The Fed selanjutnya.

"Pasar saat ini nyaris tidak memiliki pegangan yang jelas," kata Kepala Ekonom Apollo Global Management, Torsten Slok, kepada Bloomberg Television. "Agak sulit juga memahami dasar dari keputusan yang diambil hari ini," ujarnya, seraya menambahkan bahwa keputusan The Fed meninggalkan panduan kebijakan telah memicu volatilitas pasar obligasi yang belum pernah terjadi sebelumnya.

Di sisi lain, harga minyak kembali melonjak setelah mencatat penurunan tiga hari terburuk sejak 2020, menyusul pecahnya kembali pertempuran di Timur Tengah yang mengingatkan pasar akan risiko gangguan pasokan energi dari kawasan tersebut.

Minyak mentah Brent ditutup mendekati US$91 per barel pada Rabu, atau melonjak sekitar 8%. Sepanjang bulan ini, pergerakan kontrak berjangka minyak sangat bergejolak karena hubungan AS dan Iran berganti dari eskalasi konflik ke upaya diplomasi, sebelum kembali diwarnai aksi militer.

Pelaku pasar masih memantau perkembangan diplomatik untuk mengakhiri perang, sekaligus mencermati apakah arus pengiriman melalui jalur-jalur pelayaran strategis masih terganggu. Premi opsi beli (call skew) minyak Brent—yang mencerminkan biaya yang bersedia dibayar investor untuk bertaruh pada kenaikan harga lebih lanjut—naik ke level tertinggi sejak akhir April.

Likuiditas perdagangan minyak acuan global tersebut juga berkurang menjelang jatuh tempo kontraknya pada Jumat, sehingga memperbesar pergerakan harga.

"Kami tetap sangat meragukan bahwa dunia berada di ambang terobosan diplomatik besar yang dapat menyelesaikan kebuntuan terkait program nuklir yang menjadi pemicu perang ini," tulis analis RBC Capital Markets LLC yang dipimpin Helima Croft dalam sebuah catatan. Mereka menambahkan, "Ancaman rudal, ranjau laut, drone, serta pungutan yang diberlakukan Teheran akan membuat sebagian besar pelaku industri pelayaran tetap memilih untuk tidak beroperasi."

(bbn)

No more pages