“Jika Alphabet tidak dapat meyakinkan investor bahwa pengeluarannya dapat dibenarkan, maka Microsoft dan Meta mungkin akan menghadapi jalan yang lebih sulit untuk melakukan hal yang sama,” kata Tim Ghriskey, ahli strategi portofolio senior di Ingalls & Snyder, yang mengelola aset US$11 miliar dan memiliki saham Meta serta Microsoft. “Keduanya harus berupaya lebih keras untuk meyakinkan investor.”
Saham Microsoft telah anjlok 19% tahun ini, sehingga menempatkannya di antara 20 saham dengan kinerja terburuk di Indeks Nasdaq 100 yang didominasi sektor teknologi, yang secara keseluruhan naik 10% pada tahun 2026. Sementara itu, saham Meta turun 10%, dan Amazon—yang akan merilis laporan keuangannya pada Kamis—tetap stabil.
Fokus Pada Microsoft Cloud
Capex atau belanja modal Microsoft diperkirakan akan melampaui US$42 miliar pada kuartal keempat tahun fiskal ini, yang akan membawa total belanja modal tahun fiskal 2026 menjadi US$146,6 miliar. Angka tersebut akan menjadi yang tertinggi dalam sejarah perusahaan dan hampir dua kali lipat dari US$24,2 miliar yang dibelanjakan pada kuartal yang sama tahun lalu.
Mengingat tren tersebut, prospek pengeluaran Microsoft untuk tahun fiskal 2027 kemungkinan akan menjadi fokus utama dalam laporan tersebut. Para analis memperkirakan angkanya akan melebihi US$230 miliar, sementara arus kas bebas yang disesuaikan turun menjadi US$32 miliar, dari US$62,3 miliar pada tahun fiskal 2026.
Sama halnya dengan Alphabet, para investor akan mencermati bisnis cloud computing perusahaan untuk mencari tanda-tanda bahwa pengeluaran tersebut berbuah pertumbuhan. Unit Azure milik Microsoft diperkirakan akan mencatatkan kenaikan pendapatan hampir 40% untuk kuartal tersebut. Namun, pendapatan cloud Alphabet melonjak lebih dari 80%, melebihi ekspektasi, dan hal itu tidak menggembirakan para investor.
“Bagi Microsoft, bagi saya situasinya lebih tidak jelas. Sepertinya Google sedang merebut pangsa pasar dari semua pihak,” kata Paul Meeks, kepala riset teknologi di Freedom Capital Markets.
Para analis memperkirakan Microsoft akan mencatatkan kenaikan pendapatan keseluruhan sebesar 15% dan kenaikan laba bersih sebesar 16%. Keduanya diproyeksikan akan tumbuh dengan persentase dua digit pada masing-masing dari tiga tahun fiskal mendatang.
Pertanyaan untuk Meta
Walau saham Meta bahkan lebih murah daripada Microsoft, dengan rasio harga terhadap laba masa depan di bawah 15 kali, perusahaan induk Facebook ini menghadapi tantangan yang lebih rumit dalam meyakinkan investor bahwa investasi AI-nya digunakan dengan baik.
Induk dari Facebook ini diperkirakan akan mengalokasikan belanja modal US$135,6 miliar pada tahun 2026 dan lebih dari US$175 miliar pada tahun 2027.
Untuk membiayai investasi tersebut, Meta menerbitkan obligasi dan dilaporkan sedang mempertimbangkan untuk menggalang puluhan miliar dolar AS melalui penawaran saham. Dampaknya terhadap posisi kas Meta tampaknya akan signifikan.
Analis memperkirakan arus kas bebas akan turun di bawah US$1 miliar tahun ini, turun dari US$46 miliar pada tahun 2025. Arus kas bebas tersebut diproyeksikan akan menjadi negatif pada tahun 2027 sebelum kembali positif pada tahun 2028.
“Jika Anda mencari arus kas, Anda tidak akan menemukannya di sini. Perusahaan ini memang memiliki masa depan, tetapi tingkat ROI dalam jangka pendek cukup sulit, dan dibutuhkan keyakinan yang besar untuk memiliki saham ini,” terang Ghriskey dari Ingalls & Snyder.
Pendapatan diperkirakan tumbuh 26% tahun ini sebelum melambat pada masing-masing tiga tahun berikutnya. Dan laba bersih diperkirakan naik 40% pada 2026, tetapi hanya 6,5% pada 2027.
Meta menonjol di antara perusahaan-perusahaan besar yang getol belanja invetasi AI karena tidak memiliki bisnis infrastruktur cloud di mana daya komputasi dapat dijual kepada pihak lain. Namun, dilaporkan bahwa Meta sedang merencanakan bisnis tersebut dan dikabarkan sedang dalam pembicaraan untuk menyewakan daya komputasi kepada Anthropic.
Beragam langkah tersebut mencerminkan potensi perusahaan, serta dinamika sentimen seputar sahamnya, menurut Matt Stucky, manajer portofolio utama ekuitas di Northwestern Mutual Wealth Management, yang memegang saham Meta.
“Orang-orang menganggap ini sebagai bisnis terbaik di dunia saat harga sahamnya naik, dan menganggap para eksekutif benar-benar kesulitan jika harga sahamnya turun. Perkiraan cenderung optimis jika mereka menjalankan bisnis dengan baik,” tetapi “Anda harus siap menghadapi volatilitas,” pungkas dia.
(bbn)































