Berdasarkan data per 29 Juli, Andreas Kristo Saragih, Analis Mirae Asset Sekuritas, menjadi yang terbaru merekomendasikan buy. Target harga saham SMGR darinya amat menarik mencapai Rp2.750/saham.
Sehari sebelumnya, William Christofer dari BNI Sekuritas juga menyematkan rekomendasi yang sama yaitu buy dengan target harga saham SMGR mencapai Rp2.900/saham.
Adapun konsumsi semen yang kuat pada Juni yang berpotensi menjaga kinerja fundamental perusahaan pada semester I–2026 jadi pendorong performa SMGR. Melansir riset paparan Mirae Asset, konsumsi semen dalam negeri telah mencapai 5,5 juta ton pada Juni 2026, tumbuh 3,8% month–to–month dan 13,1% year–on–year.
Mirae Asset menilai, percepatan penyelesaian berbagai proyek infrastruktur, terutama rekonstruksi Sumatra, pembangunan Sekolah Rakyat, dan pembangunan Koperasi Desa Merah Putih (KDMP), jadi katalisnya.
“Menurut kami, program-program pemerintah menjadi pendorong utama pertumbuhan konsumsi semen. Pembangunan dapur SPPG (Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi) menopang permintaan semen kantong, sementara pembangunan KDMP, Sekolah Rakyat, rekonstruksi Sumatra, serta program pembangunan 3 juta rumah menjadi motor utama permintaan semen curah,” terangnya dalam riset yang sama.
Namun memang, Mirae Asset tetap berhati-hati. Era suku bunga yang masih tinggi, rasionalisasi belanja pemerintah, pelemahan nilai tukar rupiah, tingginya harga energi, serta potensi kenaikan inflasi pangan akibat fenomena El Niño amat membebani permintaan pada paruh kedua 2026.
Untuk TOWR, 20 dari 24 analis berdasarkan konsensus Bloomberg merekomendasikan buy . Target harga dari konsensus ini sebesar Rp636/saham, artinya ada potensi kenaikan lebih dari 59%.
Sabrina, Analis Trimegah Sekuritas, menjadi salah satu yang merekomendasikan buy saham TOWR. Target harganya Rp590/saham.
Jauh lebih optimistis, Erwin Wijaya dari Verdhana Sekuritas Indonesia merekomendasikan buy dengan target harga yang lebih tinggi, mencapai Rp950/saham.
Mengutip riset Steven Gunawan, Analis KB Valbury Sekuritas, monetisasi bisnis fiber TOWR terus menjadi pendorong pertumbuhan perusahaan.
“Bisnis fiber terus berkembang menjadi mesin pertumbuhan utama TOWR, yang tidak hanya mendorong pertumbuhan pendapatan tetapi juga meningkatkan kualitas laba perusahaan,” papar Steven KB Valbury.
Bisnis non-menara juga turut menjadi motor pertumbuhan yang berpotensi menggenjot kinerja TOWR di sepanjang semester I–2026. Terlebih lagi saham TOWR saat ini masih diperdagangkan pada valuasi yang sangat menarik.
“Saat ini, TOWR diperdagangkan pada 5,5x EV/EBITDA FY26F, atau mencerminkan diskon mencapai 37,7% dibanding rata-rata valuasi historis lima tahunnya yang berada di 8,8x EV/EBITDA,” analisisnya.
Kesenjangan valuasi tersebut terlalu besar, lanjutnya, mengingat kualitas laba TOWR yang terus membaik, profil arus kas yang tetap kuat, serta ekspansi platform bisnis fiber yang terus berlanjut.
(fad/aji)





























