Para negosiator Oman, seperti dilaporkan Bloomberg News, menyatakan optimistisme bahwa kemajuan dapat diumumkan dalam beberapa hari ke depan. Meski demikian, mereka mengingatkan belum ada jaminan bahwa kesepakatan benar-benar akan tercapai.
Lalu Lintas Kapal
Meski ketegangan mereda, lalu lintas kapal di Selat Hormuz masih sangat terbatas, setidaknya bagi kapal yang menyalakan perangkat pelacak (transponder).
Melansir data lalu lintas kapal Bloomberg pada Rabu (29/7/2026), aktivitas kapal di Selat Hormuz terpantau belum sepenuhnya pulih, terlebih jika dibandingkan pada periode pertengahan hingga akhir Juni lalu.
Sepanjang pertengahan hingga akhir Juni, lalu lintas kapal sempat meningkat tajam. Namun, jumlah kapal yang beredar kembali melandai sepanjang Juli.
Sebagai catatan, pada 22 Juni hingga awal Juli, aktivitas lalu lintas kapal sempat memuncak sekitar 55-57 kapal per hari. Lalu berangsur turun. Kemudian, pertengahan hingga akhir Juli, lalu lintas kembali stabil di kisaran 2-5 kapal.
Sejak gencatan senjata pada April, sebagian kapal yang memperoleh izin dari Iran memilih melintasi jalur utara. Sementara itu, mayoritas kapal lainnya menggunakan jalur selatan dan umumnya mematikan transponder agar tidak terdeteksi Iran, sembari memperoleh pengawalan dari militer AS.
Sejak perang pecah akibat serangan AS dan Israel terhadap Iran, Teheran berulang kali menegaskan akan mengelola seluruh aktivitas pelayaran di Selat Hormuz. Sikap tersebut mendapat penolakan dari AS dan para sekutunya.
Dalam pembicaraan dengan Oman kali ini, Iran juga berupaya mendorong pembentukan sistem pengelolaan bersama Selat Hormuz. Skema tersebut kemungkinan akan mencakup penerapan biaya atau pungutan tertentu bagi kapal-kapal yang melintasi jalur strategis tersebut.
(dsp/aji)






























