Meletusnya kembali pertempuran telah mengalihkan fokus investor ke Selat Hormuz. Risiko gangguan pada aliran pasokan minyak berpotensi memicu inflasi, tepat sebelum keputusan suku bunga oleh Federal Reserve (The Fed) pada hari Rabu (29/7) waktu setempat. Hal ini menambah lapisan ketidakpastian bagi investor yang memang tengah melakukan rotasi keluar dari saham-saham teknologi, di tengah kian besarnya keraguan apakah belanja miliaran dolar untuk kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) bakal menghasilkan imbal hasil yang memadai.
“Kami tetap berhati-hati terhadap potensi kesepakatan apa pun yang tidak secara konkret menyelesaikan masalah Hormuz, mengingat perselisihan terkait pengelolaan Selat tersebut sempat memicu agresi Iran dan kegagalan awal pada nota kesepahaman (MoU) sebelumnya,” kata Ryan McKay, Senior Commodity Strategist di TD Securities.
Sementara itu, Donald Trump menyambut kunjungan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu di Gedung Putih pada hari Selasa. Pemimpin AS tersebut berupaya menghindari pemboman lanjutan di Iran dan justru meletakkan dasar bagi jalur diplomasi selanjutnya.
Di sisi lain, perhatian pasar tertuju pada sektor semikonduktor. Micron Technology Inc dan Sandisk Corp menjadi penekan utama pada indeks S&P 500 pada hari Selasa, sementara Indeks Semikonduktor Philadelphia jatuh 4,5%—menempatkan indeks tersebut pada jalur bulan terburuknya sejak 2002 setelah baru saja melewati kuartal terkuat dalam sejarah.
Perbedaan pergerakan antara S&P 500 dan Nasdaq 100 “mencerminkan adanya rotasi” menjauhi para produsen cip, ujar Portfolio Manager First New York, Vikram Rai. Nasdaq 100 “tidak dapat menguat jika saham semikonduktor dan memori tidak mengalami kenaikan,” tambahnya.
Dinamika ini menciptakan latar belakang yang menantang menjelang rilis laporan keuangan perusahaan-perusahaan teknologi terbesar di AS. Microsoft Corp dan Meta Platforms Inc dijadwalkan melaporkan kinerja keuangan mereka pada hari Rabu, disusul oleh Apple Inc dan Amazon.com Inc sehari setelahnya.
Atensi pasar pada hari Rabu juga tertuju pada keputusan The Fed.
Analis dari JPMorgan Chase & Co menilai probabilitas kenaikan suku bunga kemungkinan lebih kecil dari peluang 30% yang saat ini diperhitungkan pasar, karena “inflasi, meski masih tinggi, tampaknya tidak berada dalam risiko lonjakan yang ekstrem.” Mereka memperkirakan peluang sebesar 50% untuk skenario hawkish hold (menahan suku bunga namun bersiap memperketat), mengingat bank sentral ingin tetap waspada meskipun tren harga energi terkini mengindikasikan adanya disinflasi ke depan.
“Penghindaran risiko (risk aversion) tingkat sedang tengah membayangi pasar keuangan menjelang keputusan kebijakan The Fed dan periode dua pekan rilis kinerja keuangan korporasi yang krusial,” ujar Chief Economist RSM, Joseph Brusuelas. Dengan rilis kinerja perusahaan teknologi dan minyak di depan mata, mungkin ada “keinginan yang sedikit lebih besar untuk menempatkan modal” jika bukan karena menguatnya kekhawatiran terkait persaingan AI dari China dan kondisi keuangan ekosistem teknologi, jelasnya.
Pergerakan utama pasar:
Saham
- Kontrak berjangka S&P 500 naik 0,4% pada pukul 09.02 waktu Tokyo.
- Kontrak berjangka Hang Seng naik 0,5%.
- Indeks Topix Jepang naik 0,4%.
- Indeks S&P/ASX 200 Australia naik 0,8%.
- Kontrak berjangka Euro Stoxx 50 relatif tidak berubah.
Mata uang
- Indeks Bloomberg Dollar Spot relatif tidak berubah.
- Euro stabil di level US$1,1385.
- Yen Jepang stabil di 163,86 per dolar AS.
- Yuan offshore stabil di 6,7718 per dolar AS.
- Dolar Australia stabil di US$0,6973.
Kripto
- Bitcoin naik 0,2% menjadi US$63.953,88.
- Ether naik 0,4% menjadi US$1.923,61.
Obligasi
- Imbal hasil US Treasury tenor 10 tahun naik satu basis poin menjadi 4,62%.
- Imbal hasil obligasi pemerintah Australia tenor 10 tahun relatif tidak berubah di 4,96%.
Komoditas
- Minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) naik 3,4% menjadi US$81,97 per barel.
- Harga emas spot turun 0,2% menjadi US$4.020,81 per ons.
Artikel ini disusun dengan bantuan Bloomberg Automation.
(bbn)
































