Logo Bloomberg Technoz

Penurunan minat juga terjadi pada seri PBS040 (tenor 4 tahun) yang merosot 25,6%. Sementara SPNS paling pendek seperti SPNS08092026 turun hampir 48% karena sisa tenornya semakin pendek mendekati jatuh tempo.

Penurunan minat pada tenor panjang juga diikuti oleh langkah yang diambil pemerintah dalam memenangkan penawaran yang masuk. Pemerintah pun meningkatkan porsi penerbitan sebagai berikut:

  • SPNS08092026 menjadi Rp1,2 triliun dari Rp500 miliar.
  • SPNS03022027 menjadi Rp2 triliun, dari Rp1 triliun
  • SPNS12042027 menjadi Rp4 triliun, dari Rp3,5 triliun
  • PBS030  menjadi Rp1,7 triliun, dari Rp650 miliar

Sebaliknya, pemerintah memangkas secara signifikan penerbitan tenor panjang, seperti:

  • PBS038 dipangkas dari Rp2,65 triliun menjadi  Rp200 miliar,  turun sekitar 92,5%.
  • PBS034  dikurangi 60%, dari Rp500 miliar menjadi Rp200 miliar.

Langkah ini ditempuh pemerintah bukan tanpa alasan. Pemerintah sepertinya semakin hati-hati dalam mengelola biaya utang di tengah meningkatnya tuntutan yield dari investor. Alhasil, pemerintah memiliih memaksimalkan pembiayaan pada tenor yang masih menawarkan biaya pendanaan yang relatif lebih efisien.

Hal ini terlihat dalam pergerakan yield. Pada seri tenor pendek, pemerintah mendapat biaya dana lebih murah. Seperti SPNS03022027 mencatata penurunan yield dari 7,09% menjadi 7% (turun 9,79 bps). Sedangkan SPNS12042027 turun 1,25 basis poin menjadi 7,12175%. Artinya, investor masih bersedia menerima yield yang lebih rendah untuk instrumen dengan jatuh tempo kurang dari satu tahun.

Sebaliknya, pada tenor menengah hingga panjang, investor meminta kompensasi risiko yang lebih tinggi. Yield rata-rata tertimbang PBS030 naik dari 7,14% menjadi 7,19%, naik 5,23 bps. PBS040 juga naik 5,11 bps menjadi 7,29%, sedangkan PBS038 meningkat tipis 0,59 bps  menjadi 7,31%. Hanya PBS034 yang relatif stabil dengan penurunan sangat tipis sebesar 0,01 bps. Kenaikan yield ini menggambarkan investor mulai meminta premi risiko lebih tinggi untuk mengunci dana pada tenor yang lebih panjang.

Di tengah meningkatnya ketidakpastian setelah pengunduran diri Perry Warjiyo dari kursi Gubernur Bank Indonesia, sikap pasar pun semakin hati-hati. Selain itu, saat lelang berlangsung rupiah bergerak melemah dan ditutup di level Rp18.067/US$, sejalan dengan aksi jual di pasar Surat Utang Negara (SUN) ditandai dengan kenaikan yield pada sebagian besar tenor. Kondisi tersebut membuat sikap investor semakin selektif dalam lelang sukuk kemarin.

Berikut hasil lelang sukuk:

Hasil Lelang Surat Berharga Syariah Negara (SBSN) atau Sukuk pada Selasa (28/7/2026). (DJPPR, Kementerian Keuangan).

(dsp)

No more pages