“Nanti kita kasih tahu begitu clear. Enggak [dari APBN]. Kan saya punya special mission vehicle,” ungkapnya.
Bendahara Negara tersebut juga mengaku akan menghitung kebutuhan pembiayaan Whoosh guna menyiapkan anggaran yang dapat mengurangi beban APBN. Walhasil APBN tidak akan tertanggu.
Dia juga memastikan penerbitan obligasi valuta asing berdenominasi renminbi yuan atau Panda Bond yang dirilis Kamis (23/7/2026) bukan digunakan untuk pembiayaan pembayaran utang Whoosh. Penerbitan obligasi pemerintah tersebut merupakan bagian untuk menutup defisit APBN di tahun ini.
“Ini kan untuk menutup defisit kita. Nanti ke depan apakah pakai itu, nanti kita lihat seperti apa,” tuturnya.
Polemik utang proyek Kereta Cepat Jakarta–Bandung ini telah bergulir sejak tahun lalu. Whoosh yang dikelola oleh PT Kereta Cepat Indonesia China (KCIC) memiliki total investasi sekitar US$7,2 miliar, termasuk pembengkakan biaya US$1,2 miliar.
Sebelumnya, CEO Badan Pengelola Investasi (BPI) Danantara, Rosan Roeslani membenarkan bahwa restrukturisasi utang proyek Whoosh, PT Kereta Cepat Indonesia China (KCIC) akan berada di bawah Kementerian Keuangan.
Rosan bilang bahwa saat ini restrukturisasi utang Whoosh tersebut sudah disetujui oleh Menteri Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan (Menko IPK) Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) dan akan diumumkan oleh AHY.
Sekadar catatan saja, konsorsium proyek Whoosh melibatkan sejumlah BUMN, antara lain PT KAI, PT Wijaya Karya Tbk (WIKA), dan PT Jasa Marga Tbk (JSMR), dengan toital nilai investasi proyek mencapai US$7,2 miliar, termasuk pembengkakan biaya atau cost overrun sekitar US$1,2 miliar.
Proyek ini dibiayai melalui skema 75% pinjaman dari China Development Bank (CDB) dan 25% setoran modal pemegang saham, yakni PT Pilar Sinergi BUMN Indonesia (PSBI) sebesar 60% serta Beijing Yawan HSR Co. Ltd. sebesar 40%.
Untuk menutup cost overrun, pemerintah menyuntikkan PMN Rp3,2 triliun ke KAI, sementara CDB menambah pinjaman sebesar US$448 juta yang kemudian diteruskan ke KCIC. Secara total, utang proyek mencapai sekitar Rp79 triliun dengan bunga awal 3,4% per tahun, atau setara beban bunga US$120,9 juta per tahun.
Studi KCIC dan KAI memperkirakan pengembalian investasi membutuhkan waktu 38 tahun, sedangkan pemerintah menghitungnya dalam kisaran 30–40 tahun.
(lav)
































