Mata uang yen terus menunjukkan tren melemah terhadap dolar AS dalam beberapa tahun terakhir. Kondisi ini dipicu oleh meroketnya suku bunga di AS untuk meredam inflasi era pandemi, sementara suku bunga di Jepang justru sempat dipatok di zona negatif guna keluar dari jerat deflasi. Meskipun jurang perbedaan suku bunga tersebut kini sudah menyempit, reli penguatan dolar AS serta tingginya harga minyak mentah imbas perang di Iran terus memberikan tekanan berat bagi mata uang Jepang.
Pada perdagangan hari Kamis (2/7), yen terpantau masih ditransaksikan menembus level 162 per dolar AS, posisi terlemahnya sejak tahun 1986. Di saat pelemahan kurs ini sukses mempertebal pundi-pundi pendapatan para eksportir, fenomena ini di sisi lain juga melambungkan biaya impor. Akibatnya, margin keuntungan di berbagai sektor industri yang bergantung pada pasokan impor kini kian tergerus.
Konflik yang membara di Timur Tengah turut menjadi faktor utama yang melambungkan biaya operasional. Berdasarkan survei dari Organization for Small & Medium Enterprises and Regional Innovation, indeks harga untuk pembelian bahan baku dan barang dagangan di kalangan perusahaan kecil melonjak tajam pada kuartal kedua. Indeks harga produsen yang dirilis oleh BOJ juga terpantau melonjak dalam beberapa bulan terakhir.
Laporan dari Tokyo Shoko Research memperlihatkan bahwa gelombang kebangkrutan ini sangat terkonsentrasi di sektor perdagangan grosir (wholesale). Salah satu contohnya adalah Merry Time Foods Co yang berbasis di Tokyo, sebuah perusahaan importir komoditas kepiting, udang, dan tuna dari berbagai wilayah di Asia. Perusahaan tersebut dinyatakan bangkrut pada bulan Mei lalu akibat memburuknya profitabilitas yang dipicu oleh kombinasi pelemahan yen dan ketidakpastian politik di negara-negara pemasok mereka.
Lembaga riset tersebut memproyeksikan bahwa kasus kebangkrutan akibat faktor mata uang ini kemungkinan besar akan tetap tinggi dalam beberapa waktu ke depan. Tekanan ini diprediksi akan terus membayangi para pedagang grosir, ritel, serta produsen manufaktur yang memiliki kemampuan terbatas dalam menentukan harga jual produk.
Tekanan ini terasa sangat akut bagi pelaku usaha kecil dan menengah (UKM), yang dinilai lebih rentan terkena dampak kenaikan biaya pinjaman ketimbang perusahaan-perusahaan besar. Mereka juga harus menghadapi tekanan kenaikan upah karyawan di tengah masalah kelangkaan tenaga kerja yang terus membayangi Jepang. Ditambah lagi, ketatnya persaingan pasar membuat perusahaan-perusahaan kecil ini memiliki keterbatasan ruang untuk membebankan kenaikan biaya operasional tersebut kepada konsumen mereka.
"Pelemahan yen menjadi salah satu faktor pemicunya," ujar Yoshihiro Sakata, manajer di Tokyo Shoko Research. "Ketika dikombinasikan dengan inflasi dan kenaikan biaya tenaga kerja, hal ini menciptakan beban kumulatif yang sangat berat bagi dunia usaha."
Sumber tekanan lain bagi pelaku bisnis kecil kemungkinan berasal dari instrumen lindung nilai (hedging) valuta asing, termasuk penggunaan produk derivatif yang dikenal sebagai opsi reverse knockout. Menurut keterangan Yuji Saito, penasihat eksekutif di SBI FXTrade Co, produk semacam ini banyak dijual oleh bank-bank regional sebagai instrumen lindung nilai terstruktur, khususnya bagi para importir kecil dan regional yang ingin meminimalkan pembayaran premi opsi di muka.
Namun, begitu nilai tukar menyentuh level batasan (knockout) yang telah ditentukan sebelumnya, masa berlaku opsi tersebut otomatis berakhir dan fungsi proteksi dari lindung nilai tersebut akan hilang. Perusahaan yang membutuhkan dolar AS kemudian terpaksa harus membelinya langsung di pasar spot, atau masuk ke dalam kesepakatan lindung nilai baru yang harganya sering kali jauh lebih mahal, atau membiarkan diri mereka terkespos terhadap pergerakan nilai tukar berikutnya.
"Semakin lemah nilai tukar yen, semakin banyak importir yang terjebak masuk ke dalam struktur opsi yang kian berisiko," jelas Saito. "Begitu level knockout tersebut ditembus, mereka terpaksa membeli dolar di pasar spot. Hal ini menciptakan lingkaran setan (negative spiral) yang justru memberikan tekanan pelemahan yang lebih dalam lagi bagi mata uang yen."
Para analis memperkirakan bahwa sisa level reverse knockout saat ini berkerumun di kisaran 163 hingga 170 yen per dolar AS—sebuah teritori yang sebelumnya sama sekali tidak diduga akan tercapai oleh banyak perusahaan di Jepang.
"Jumlah kasus perusahaan yang terkena knockout bisa meningkat drastis jika yen terus melemah," pungkas Hiroyuki Machida, direktur penjualan komoditas dan forex Jepang di Australia & New Zealand Banking Group. "Situasi ini kian menjadi masalah serius bagi perusahaan-perusahaan yang tidak mampu membebankan kenaikan biaya operasional mereka ke pelanggan."
(bbn)






























