Logo Bloomberg Technoz

Saham–saham barang baku, saham energi, dan saham infrastruktur menjadi pendorong penguatan IHSG dengan melesat mencapai 3,27%, 1,75% dan 0,73%.

Saham–saham LQ45 yang menguat signifikan antara lain PT Petrindo Jaya Kreasi Tbk (CUAN) yang melesat 10,3%, PT Barito Pacific Tbk (BRPT) melejit 10,1%, dan PT Vale Indonesia Tbk (INCO) terapresiasi 7,04%.

Neraca Dagang Defisit, Pertama Sejak 2020

Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan kinerja neraca perdagangan Indonesia per Mei 2026. Hasilnya, neraca dagang mengalami defisit sebesar US$1,61 miliar.

Artinya, neraca perdagangan Indonesia telah memutus rantai surplus selama 72 bulan berturut–turut yang sudah berlangsung sejak Mei 2020.

Defisit tersebut pun juga berseberangan jauh dari proyeksi konsensus para ekonom dan analis yang mengestimasikan neraca dagang bakal mengalami perbaikan.

Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS Ateng Hartono menjelaskan defisit neraca perdagangan Mei 2026 terutama disebabkan oleh komoditas migas yang defisit mencapai US$3,76 miliar, dengan penyumbang komoditas migas dari hasil minyak dan minyak mentah.

Lebih detail, pada Mei 2026, impor negara Indonesia mencatat kenaikan 22,16% year–on–year/yoy ke US$24,81 miliar. Dilihat dari sisi penggunaannya, nilai impor pada Mei terjadi peningkatan pada seluruh golongan penggunaan secara tahunan.

Pada saat yang sama, ekspor Tanah Air justru turun 5,73% pada Mei menjadi US$23,2 miliar. Sebagai catatan, nilai ekspor tersebut melambat dari yang semula mengalami pertumbuhan nilai ekspor pada April 2026 lalu.

“Penurunan nilai ekspor pada Mei 2026 secara tahunan terutama didorong oleh kenaikan nilai ekspor non-migas, yaitu pada beberapa komoditas. Ini terutama logam mulia, perhiasan, dan permata turun 59,35% dengan andil -2,93% terhadap kenaikan total ekspor,” kata Ateng.

Inflasi Juni Tembus 3,34% YoY

Kemudian, Badan Pusat Statistik (BPS) juga mengumumkan data inflasi Juni 2026. Hasilnya Indonesia mengalami inflasi sebesar 0,44% secara bulanan (month–to–month/mtm) atau 3,34% secara tahunan (year-on-year/yoy).

Secara rinci, komoditas yang dominan mendorong inflasi adalah kenaikan harga bensin. Selain itu, tarif angkutan udara dan oli mesin juga memberi andil terhadap inflasi.

Menurut Ateng, beberapa hal yang menjadi pendorong inflasi dari sektor transportasi ini adalah dengan adanya dua kali kenaikan harga BBM non–subsidi yang terjadi pada 1 dan 10 juni 2026.

Sementara itu, kenaikan untuk tarif angkutan udara terutama didorong oleh meningkatnya permintaan seiring dengan adanya periode libur sekolah. Selain transportasi, BPS juga mencatat kelompok makanan, minuman dan tembakau turut memberi andil terhadap inflasi.

(fad/aji)

No more pages