Logo Bloomberg Technoz

Sementara itu, Josua memperkirakan kenaikan avtur masih akan mendorong tarif angkutan udara mengingat kebijakan penanggungan PPN tiket pesawat kelas ekonomi domestik baru efektif di pekan terakhir Juni, sehingga dampaknya terhadap penurunan inflasi bulanan kemungkinan terbatas.

“Pasar kemungkinan membaca inflasi masih terkendali tetapi mendekati batas atas sasaran BI. Ini membuat ruang BI untuk melonggarkan kebijakan belum terbuka,” kata Josua. 

Menurut Josua, BI kemungkinan tetap menjaga sikap hati-hati, terutama karena rupiah masih rentan dan tekanan harga pangan serta energi belum sepenuhnya selesai.

Namun, apabila inflasi ternyata lebih tinggi dari 3,5%, tekanan ke obligasi dan rupiah bisa meningkat karena pasar akan menilai risiko kenaikan suku bunga lanjutan belum tertutup. Sebaliknya, jika inflasi di bawah 3,3%, pasar akan mendapat sedikit ruang lega, tetapi belum cukup untuk mengubah arah kebijakan BI secara cepat.

Surplus Perdagangan Diperkirakan Melebar

Untuk neraca perdagangan, Josua memperkirakan surplus Mei 2026 akan kembali melebar menjadi sekitar US$1,13 miliar, setelah April hanya mencatatkan surplus US$0,09 miliar dolar.

“Namun, pelebaran surplus ini jangan dibaca terlalu optimistis karena penyebab utamanya adalah normalisasi impor setelah lonjakan pasca-Lebaran pada April, bukan karena ekspor sedang kuat,” kata Josua.

Sementara itu, ekspor Mei diperkirakan turun 2,45%yoy dan turun -5,11%mtm, terutama akibat pelemahan harga batu bara dan minyak sawit mentah serta melemahnya permintaan dari China.

Sementara itu, impor diperkirakan masih tumbuh 12,65%yoy, meskipun turun -9,25%mtm. Hal ini menurut Josua menunjukkan permintaan domestik masih cukup kuat, tetapi sekaligus memberi sinyal bahwa impor mulai tumbuh lebih cepat daripada ekspor.

“Jadi, meskipun surplus perdagangan Mei membaik dibanding April, tren besarnya tetap mengarah pada penyempitan surplus perdagangan sepanjang 2026,” katanya.

Menurut Josua, dengan kebijakan pemerintah yang mendorong pertumbuhan, impor bahan baku, barang modal, dan kebutuhan konsumsi berpotensi tetap tinggi, sementara ekspor masih tertekan oleh harga komoditas dan permintaan global yang lemah.

“Jadi, rilis BPS besok kemungkinan memberi pesan yang campuran. Inflasi naik dan perlu diwaspadai, sedangkan neraca perdagangan membaik secara bulanan tetapi belum menunjukkan perbaikan struktural,” sebutnya.

Sementara itu, menurut Josua pemerintah perlu fokus menjaga pasokan pangan, mengendalikan dampak kenaikan BBM nonsubsidi dan tarif transportasi, serta memperkuat ekspor bernilai tambah agar tekanan terhadap rupiah tidak bertumpuk dari dua sisi sekaligus, yaitu inflasi yang naik dan surplus perdagangan yang secara tren makin mengecil.

(ell)

No more pages