Logo Bloomberg Technoz

Laporan ekonomi pada hari Selasa menunjukkan bahwa lowongan pekerjaan di AS tidak banyak berubah pada bulan Mei, mengindikasikan permintaan tenaga kerja yang tetap stabil. Sementara itu, indeks keyakinan konsumen merangkak naik pada bulan Juni karena penurunan harga bensin berhasil mengimbangi kecemasan pasar terkait ketersediaan lapangan kerja.

Di sisi lain, para pembuat kebijakan di bank sentral AS (Federal Reserve/The Fed) sepakat secara bulat untuk mempertahankan suku bunga acuan dalam rapat bulan lalu—yang menjadi rapat perdana di bawah kepemimpinan gubernur yang baru, Kevin Warsh. Data ketenagakerjaan yang stabil ditambah dengan angka inflasi yang masih tinggi memicu ekspektasi pasar bahwa The Fed mungkin perlu menaikkan suku bunga akhir tahun ini guna meredam tekanan harga. Para pejabat dijadwalkan menggelar rapat kebijakan moneter berikutnya pada akhir Juli mendatang.

Gubernur The Fed Cleveland, Beth Hammack, menyatakan dirinya melihat sedikit bukti bahwa tingkat suku bunga saat ini cukup ketat untuk menahan laju ekonomi. Ia menilai bank sentral kemungkinan besar perlu menaikkan biaya pinjaman demi mengembalikan inflasi ke target 2%.

Beralih ke Asia, merosotnya nilai tukar yen Jepang ke level terendah dalam empat dekade terakhir terhadap dolar AS membuat para pelaku pasar bersiap mengantisipasi ambang batas intervensi berikutnya dari Tokyo. Setelah mata uang Jepang tersebut menembus level 162 per dolar pada hari Selasa, para analis strategi mulai menunjuk angka 163 ke atas sebagai titik kritis baru. Mereka menilai Kementerian Keuangan Jepang kemungkinan bakal lebih menoleransi pelemahan yen dibanding kebijakan mereka pada tahun 2024 lalu.

Sementara itu, pembicaraan damai antara AS dan Iran dijadwalkan kembali bergulir di Qatar pada hari Selasa, setelah kedua belah pihak sepakat menghentikan aksi saling serang di Selat Hormuz. Sejauh ini, pihak Iran belum mengonfirmasi rincian mengenai putaran negosiasi terbaru tersebut.

Meski demikian, Republik Islam Iran berulang kali menegaskan tekadnya untuk tetap memegang kendali atas lalu lintas maritim di jalur pelayaran kritis tersebut. Sikap ini otomatis meningkatkan tensi dan taruhan menjelang perundingan di Doha.

"Meskipun laporan berkala mengenai ketegangan baru sempat memicu pergerakan jangka pendek di pasar energi, para investor sejauh ini tetap memperhitungkan skenario pembukaan kembali Selat Hormuz secara relatif tertib dan normalisasi bertahap pada arus minyak global," ungkap Daniela Hathorn, analis pasar senior di Capital.com.

(bbn)

No more pages