Baghaei menegaskan, fokus Iran saat ini sepenuhnya tertuju pada pelaksanaan isi Nota Kesepahaman, bukan pada pembicaraan mengenai kesepakatan baru.
"Prioritas Republik Islam Iran saat ini adalah untuk memastikan implementasi penuh dari ketentuan-ketentuan dalam Nota Kesepahaman. Terkait hal ini, kami mengawal tuntutan kami dengan penuh keseriusan," ujarnya.
Menurut Baghaei, implementasi komitmen AS dalam MoU mulai menunjukkan perkembangan, terutama terkait ekspor minyak Iran.
"Mengenai komitmen Amerika Serikat di bawah Pasal 10 (ekspor minyak), otorisasi yang diperlukan telah dikeluarkan oleh pihak Amerika Serikat, dan kami sedang memantau proses implementasinya secara ketat," katanya.
Ia menambahkan bahwa pelaksanaan Pasal 11 mengenai pencairan aset Iran yang selama ini dibekukan juga tengah berjalan.
"Adapun mengenai Pasal 11 (pencairan aset Iran yang dibekukan), proses untuk merealisasikan komitmen ini juga sedang berjalan. Dalam kerangka kerja ini, delegasi ahli dari Republik Islam Iran dijadwalkan bertolak ke Doha pada akhir pekan ini," ujar Baghaei.
Meski demikian, Iran menegaskan bahwa keberangkatan delegasi tersebut semata-mata untuk mengawasi implementasi MoU, bukan untuk melakukan negosiasi politik dengan Washington.
Baghaei juga menepis anggapan bahwa kedua negara telah memasuki tahap pembahasan kesepakatan damai permanen.
"Kami belum memasuki tahap negosiasi untuk menuju kesepakatan final. Berdasarkan Pasal 13 Nota Kesepahaman, dimulainya negosiasi kesepakatan final tersebut bergantung pada permulaan dan kelanjutan dari implementasi Pasal 1, 4, 5, 10, dan 11," jelasnya.
(del)





























