Zaidan juga menilai pemerintah dan Bank Indonesia mulai mengedepankan kebijakan yang berorientasi pada stabilitas ekonomi.
Namun di sisi lain, ketidakpastian terkait evaluasi MSCI, prospek suku bunga Amerika Serikat yang masih tinggi, serta fluktuasi nilai tukar rupiah diperkirakan masih menahan aliran dana asing ke pasar saham Indonesia.
Pandangan tersebut tercermin pada pergerakan IHSG yang masih tertekan pada perdagangan hari ini.
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) merosot 2,42% sampai penutupan perdagangan sesi I, Selasa (30/6/2026). IHSG ditutup di level 5.679 sampai perdagangan siang ini.
Kendati demikian, Zaidan memperkirakan IHSG berpeluang bergerak sideways dibanding melanjutkan pelemahan yang lebih dalam, dengan level 5.300 menjadi area penopang kuat apabila tekanan kembali meningkat.
Proyeksi tersebut sejalan dengan pandangan bahwa ruang penurunan IHSG mulai terbatas. Dalam jangka pendek satu hingga tiga bulan, indeks diperkirakan bergerak pada kisaran 5.500-6.000.
Adapun dalam jangka menengah atau enam hingga 12 bulan, IHSG berpeluang mengarah ke level 6.200-6.600 apabila sentimen pasar membaik dan aliran dana asing kembali masuk.
Sementara itu, Head of Research Infovesta Utama, Wawan Hendrayana menilai dibukanya kembali Selat Hormuz juga berpotensi mengurangi tekanan fiskal pemerintah melalui penurunan beban subsidi bahan bakar minyak (BBM).
Selain itu, pasar juga akan menantikan rilis data pertumbuhan ekonomi Indonesia kuartal II-2026 sebagai katalis berikutnya.
"Namun memang sentimen negatif masih cukup kuat saat ini, terutama berasal dari nilai tukar rupiah, potensi kenaikan suku bunga, serta kebijakan pemerintah yang masih menjadi sorotan pasar," kata Wawan.
Dia menyarankan investor jangka panjang untuk menerapkan strategi wait and see hingga arah pasar lebih jelas.
Sementara bagi investor yang membutuhkan dana dalam jangka pendek, investasi di saham dinilai belum menjadi pilihan yang tepat karena volatilitas pasar masih tinggi.
(cpa/naw)































