Edy mengingatkan kenaikan harga gas ini akan berdampak pada penurunan utilisasi kapasitas produksi dan daya saing industri.
“Daya saing industri akan terus tergerus dan utilisasi kapasitas produksi akan menurun,” ujar Edy.
Edy juga menilai harga gas ideal harus sejalan dengan Alokasi Gas Industri Tertentu (AGIT) dengan realisasi minimal sebesar 80%. Sementara itu, sisa kebutuhan pasokan gasnya dapat dipenuhi melalui LNG.
Sayangnya, Edy mengungkapkan realisasi AGIT saat ini baru menyentuh angka 47,5%.
Rendahnya realisasi dalam catatan Asaki dipicu oleh pasokan gas dari PT Perusahaan Gas Negara (PGN) yang terus mengalami penurunan sepanjang periode Januari—Mei 2026.
“AGIT yang tercatat hanya mencapai 47,5% sehingga kebutuhan sisanya harus dipenuhi industri regasifikasi dengan harga yang jauh lebih tinggi,” ungkap Eddy
Edy menambahkan dalam informasi terbaru dari PGN, AGIT pada Juni 2026 berpotensi turun hingga di bawah 30%.
Menurutnya, hal yang diperjuangkan industri keramik bukan hanya persoalan harga gas, melainkan keberlangsungan industri keramik nasional secara keseluruhan.
“Industri keramik yang tergabung dalam Asaki disebut menopang investasi besar dan menyerap sekitar 150.000 tenaga kerja,” kata Edy.
Sebelumnya, Wakil Ketua DPR RI Sufmi Dasco Ahmad dalam Rapat Kerja Nasional (Rakernas) Konfederasi Serikat Pekerja Indonesia (KSPI) di Jakarta telah menghubungi Direktur Utama PT Pertamina (Persero) Simon Aloysius Mantiri untuk membahas hal ini.
Dalam percakapan tersebut, Dasco menyampaikan persoalan gas industri telah menjadi isu serius yang memengaruhi berbagai sektor usaha.
“Saya tadi ditanyakan mengenai masalah gas industri. Persoalan ini sudah menjadi perhatian,” kata Dasco.
Menanggapi hal itu, Simon menyatakan Pertamina akan segera berkoordinasi dengan PGN untuk mencari solusi.
“Kami akan segera berkoordinasi dengan PGN dan berkomitmen melakukan penyesuaian agar persoalan ini dapat diselesaikan,” ujarnya.
Dasco juga mengungkapkan adanya ancaman terhadap sektor ketenagakerjaan. Berdasarkan informasi yang diterimanya, potensi PHK akibat tekanan biaya gas dapat mencapai sekitar 55.000 pekerja di sejumlah pabrik keramik di wilayah Bekasi.
Sementara itu, Presiden Konfederasi Serikat Pekerja Seluruh Indonesia (KSPSI) Andi Gani Nena Wea mengatakan harga gas industri mengalami kenaikan signifikan, dari sebelumnya sekitar US$6 menjadi US$23 per MMBTU.
Menurutnya, dampak kenaikan tersebut mulai terasa di sektor industri keramik. Beberapa perusahaan disebut sudah mengalami tekanan berat.
“Dua pabrik besar anggota kami di Bekasi sudah tutup. Granito, Milan Keramik, dan Mulia Keramik juga terancam akibat persoalan gas industri. Ini sangat berbahaya,” kata Andi.
Adapun, Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia memastikan akan menghitung ulang formulasi HGBT untuk industri.
Dalam kaitan itu, dia juga mengaku telah bertemu dengan kalangan asosiasi dan pelaku industri untuk mencari formulasi HGBT agar harga gas untuk industri dapat tetap terjangkau.
“Namun, juga tidak bisa terlalu dengan harga yang mereka inginkan. Sekarang lagi kita mencari formulasi ya,” kata Bahlil dalam agenda Seminar Nasional Kajian Tengah Tahun Indef 2026, Kamis (25/6/2026).
Selain itu, Bahlil memastikan harga gas dalam program HGBT untuk pelaku Industri tidak akan mengalami kenaikan meskipun ada penurunan produksi di beberapa sumur minyak dan gas (migas) di Jawa Barat.
“Kalau HGBT enggak naik, tetapi kalau memang harganya dari LNG, pasti naik. Memang, [hal yang] kita lagi hitung sekarang adalah kapasitas daripada HGBT itu, karena kan di Jawa Barat itu ada beberapa penurunan [produksi] dari sumur-sumur [migas],” jelasnya.
(smr/wdh)




























