Produksi A380 berakhir pada 2021 setelah pesanan mengering. Sejumlah maskapai telah menjual atau memensiunkan armada A380 mereka, termasuk Malaysia Airlines dan Air France.
Emirates, bersama beberapa maskapai lain termasuk Deutsche Lufthansa AG dan Qatar Airways, tetap mempertahankan armada A380 mereka. Namun, menjaga pesawat superjumbo yang menua itu tetap aman untuk terbang semakin menjadi beban biaya yang mahal bagi maskapai. Dua dekade setelah penerbangan perdananya, berbagai buletin regulator yang memerintahkan perbaikan, inspeksi, atau penggantian komponen untuk pesawat bermesin empat raksasa tersebut terus bertambah.
Pabrikan asal Eropa itu sebelumnya juga pernah menghadapi masalah serupa pada A380, pesawat terbesar yang pernah diproduksinya. Pada 2012, sejumlah maskapai harus menghentikan sementara operasional A380 mereka selama beberapa minggu setelah retakan ditemukan pada komponen sayap.
Masalah retakan sayap tersebut menelan biaya ratusan juta dolar bagi Airbus untuk perbaikan dan layanan purnajual, serta menyebabkan keterlambatan pengiriman pesawat kepada maskapai pelanggan.
(bbn)































