Memori kini menjadi barang yang kian langka dan dibutuhkan. Perangkat ini semakin dibutuhkan pusat data, sebagai infrastruktur penting sektor AI yang tengah booming. Kondisi demikian membuat harganya naik.
Berbagai pusat perakitan terus bersaing mendapat kapasitas produksi DRAM dan NAND flash yang sama, yang menjadi andalan produsen smartphone, sehingga ketersediaan pasokan khusus untuk perangkat konsumen menipis.
Untuk diketahui, komponen memori menyumbang lebih dari 30% dari daftar bahan baku atau bill of materials untuk beberapa model smartphone. Pada ujungnya, situasi ini meningkatkan tekanan pada produsen.
Dampak ini diperkirakan akan terus memengaruhi perangkat kelas bawah dan menengah seiring perusahaan menyesuaikan strategi penetapan harga sepanjang tahun ini.
Pasar smartphone bekas memang mulai merasakan manfaat dari perubahan perilaku konsumen, dengan penjualan terpantau naik sebesar 4% yoy selama kuartal pertama 2026. Dimana ceruk ini bakal terus bertumbuh hingga 15,4% menurut FDM CCS Insight untuk tahun 2026. Semua karena pergeseran permintaan dari perangkat baru.
FDM CCS Insight memproyeksikan smartphone kelas premium, terutama perangkat dengan harga di atas US$750 (sekitar Rp13,3 juta), akan terus menjadi pendorong utama pasokan tukar tambah yang tersedia.
Perangkat-perangkat ini kurang terpengaruh oleh tekanan harga saat ini, sehingga memungkinkan produsen dan pengecer untuk mempertahankan insentif upgrade yang lebih kuat.
“Pada pasar second memiliki peluang untuk memenuhi sebagian permintaan yang tidak akan terpenuhi oleh pasar utama,” kata Hatton. “Hambatan utama dalam jangka pendek adalah meningkatkan pasokan selama periode sepi peluncuran produk andalan.”
“Negara-negara dengan program trade-in yang sudah matang akan berada dalam posisi yang jauh lebih kuat untuk memanfaatkan peluang ini dan mempertahankan tingkat pertumbuhan yang lebih tinggi di pasar sekunder sepanjang sisa tahun ini.”
(red)































