Bahlil menyatakan permasalahan pertama adalah terkait persoalan pembangkit listrik tenaga gas (PLTG). Kendati begitu, dia tak menjelaskan lebih lanjut terkait permasalahan yang sempat terjadi di salah satu PLTG di Pulau Jawa.
Adapun, PLTGU Jawa 1 sempat disebut-sebut menjadi salah satu penyebab pemadaman bergilir tersebut, tetapi PT Jawa Satu Power selaku pengelola menyatakan pembangkit beroperasi normal meskipun terdapat pemeliharaan.
Penyebab kedua, lanjut Bahlil, permasalahan dalam pemenuhan batu bara kalori medium untuk pembangkit PLN dan swasta. Dia menegaskan dari total kebutuhan pembangkit listrik tenaga uap (PLTU) sebesar 154 juta ton, 134 juta ton kontrak batu bara telah diteken kontraknya.
Selain itu, Kementerian ESDM juga sudah menugaskan perusahaan batu bara untuk memasok 180–190 juta ton batu bara ke PLTU PLN dan swasta.
“Sebenarnya secara kontrak dengan PLN dengan pengusaha 134 juta untuk satu tahun. Sekarang kan baru bulan 6, itu harusnya no issue. Ternyata yang PLN keluhkan itu atau PLN minta itu adalah kalori yang medium untuk blending,” kata Bahlil kepada awak media di Kompleks Istana Kepresidenan, Senin (22/6/2026).
Bahlil juga menegaskan Kementerian ESDM telah membantu PLN untuk bisa mendapatkan batu bara kualitas sedang yang dibutuhkan pembangkit.
Persoalan ketiga, bahlil meminta PLN untuk segera melakukan pemeliharaan sistem pembangkit dan jaringan kelistrikan agar layanan setrum masyarakat tetap andal.
“Tadi PLN menyampaikan kepada saya dalam rapat bahwa mulai hari ini itu sudah tidak ada terjadi gangguan lagi. Itu menurut Dirut PLN ya. Karena urusan teknis terhadap pelayanan operasional listrik itu ada pada PLN. Pemerintah itu regulator,” ujar Bahlil.
Adapun, Direktur Utama PLN Darmawan Prasodjo menyatakan satu dari dua PLTU di Pulau Jawa yang mengalami gangguan telah pulih kembali, sehingga pemadaman bergilir diklaim dapat diminimalisasi.
Darmawan menyatakan satu PLTU milik independent power producer (IPP) tersebut berhasil dipulihkan dan kembali masuk ke dalam sistem kelistrikan Pulau Jawa, pada Minggu (21/6/2026) pukul 18.00 WIB.
Kendati begitu, Darmawan enggan mengungkapkan posisi dua PLTU milik pihak swasta yang mengalami gangguan tersebut.
“Malam ini kami menyampaikan kabar yang baik, salah satu pembangkit berhasil dipulihkan. Tadi 18.00 sudah sinkron dengan sistem kelistrikan Pulau Jawa dan mulai memasok listrik untuk menambah keandalan sistem kelistrikan di Pulau Jawa,” kata Darmawan dalam konferensi pers, Minggu (21/6/2026) malam.
Dalam kaitan itu, Darmawan mengklaim pemadaman bergilir yang belakangan terjadi di sebagian wilayah di Pulau Jawa dapat berkurang.
Dalam perkembangannya, PLN mendorong percepatan penambahan stok batu bara pada sejumlah jaringan PLTU besar lainnya untuk menutup defisit listrik sebagai buntut gangguan dua pembangkit raksasa tersebut.
Beberapa PLTU besar yang telah menerima pasokan batu bara tambahan pada periode ini di antaranya PLTU Pelabuhan Ratu, PLTU Lontar, PLTU Labuan, PLTU Suralaya 1 sampai PLTU Suralaya 8, PLTU Jawa 7, PLTU Jawa 9, PLTU Jawa 10 dan PLTU Indramayu yang mendukung sistem di Jawa Bagian Barat.
Sementara itu, beberapa PLTU lainnya di Jawa Bagian Timur yang mendapat tambahan pasokan batu bara di antaranya PLTU Paiton 1, PLTU Paiton 2, PLTU Paiton 9, PLTU Rembang, PLTU Pacitan dan PLTU Tanjung Awar-Awar.
Adapun, Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) membeberkan PLN kekurangan sekitar 20 juta ton stok batu bara untuk pembangkit tahun ini.
Wakil Menteri ESDM Yuliot Tanjung mengatakan PLN baru mengamankan 134 juta ton kontrak batu bara, padahal total kebutuhan batu bara PLN diproyeksikan mencapai 154 juta ton sampai akhir tahun.
“Jadi kemarin kan disampaikan kebutuhan PLN itu adalah 154 juta yang sudah dipenuhi berdasarkan kontrak 134 juta. Itu kekurangan 20 [juta ton] itu lagi diusahakan,” kata Yuliot kepada awak media di Kementerian ESDM, Rabu (17/6/2026).
(azr/ros)





























