Di sisi lain, tekanan inflasi global juga menjadi salah satu alasan yang dapat memaksa bank-bank sentral menaikkan suku bunga lebih lanjut.
Pasar Obligasi Global
Kondisi ini tak cuma terjadi di Indonesia. Tekanan inflasi global diperkirakan melanjutkan tren bear flattening (yield jangka pendek naik lebih cepat daripada tenor panjang) di pasar surat utang global.
Kondisi ini juga dipicu oleh bank sentral yang mengirim sinyal bahwa dampak perang terhadap tekanan biaya dan ekspektasi inflasi masih membutuhkan waktu untuk terserap ke dalam perekonomian.
Yield obligasi pemerintah AS (US Treasury) naik 4,3 bps ke 4,21%, disusul tenor 2 tahun 4 bps ke 4,23%, dan tenor 5 tahun naik 3,6 bps ke 4,26%. Tenor acuan 10 tahun juga naik 3 bps ke 4,48%.
Kenaikan yield hari ini melanjutkan tren yang terjadi pada pekan lalu, kala pasar mulai mengantisipasi kemungkinan kenaikan suku bunga The Fed. Dengan sikap hawkish yang diambil The Fed menahan suku bunga di rentang 3,5%-3,75%, kenaikan yield US Treasury tak terhindarkan.
Pekan ini, pelaku AS akan mencermati rilisnya data Personal Consumption Expenditure (PCE) AS yang akan menggambarkan tingkat inflasi domestiknya, dan diperkirakan meningkat menjadi 4,1%, berdasarkan estimasi ekonom yang disurvei Bloomberg.
Selain AS, investor asing juga menjual bersih obligasi domestik Korea Selatan senilai US$91,2 juta pada 19 Juni lalu, seperti dihimpun Bloomberg. Angka ini menjadi aksi jual terbesar sejak 16 April 2026.
Sementara di Indonesia, investor asing melepas kepemilikan obligasi senilai US$90,9 juta pada 18 Juni, serta melepas kepemilikan saham senilai US$179,5 juta.
Begitu juga dengan pasar obligasi Thailand yang ditinggalkan investor dengan melepas kepemilikan senilai US$345,4 juta pada 19 Juni lalu. Tak hanya itu, investor juga melepas saham Thailand senilai US$114,7 juta. Thailand jadi negara dengan arus keluar dana asing terbesar di pasar obligasi Asia, setidaknya pada periode tersebut.
Setali tiga uang, investor juga melepas kepemilikan di pasar obligasi Filipina, dengan penjualan bersih sebesar US$7,45 juta pada 19 Juni.
Sepertinya, sebagian investor global mengalihkan uang mereka ke negara lain di kawasan ini yang memiliki prospek ekonomi lebih baik. Sebab, investor asing justru mencatat aksi beli di pasar obligasi Malaysia senilai US$493 juta per 15 Juni lalu, serta pasar obligasi India US$6,4 juta.
Data Bloomberg siang ini menunjukkan obligasi pemerintah India tenor 10 tahun menyusut tipis 0,2 bps ke 6,88%, dan yield tenor 5 tahun turun 1,5 bps menjadi 6,48%.
Ekspektasi Inflasi dan Suku Bunga
Sikap defensif investor dan cenderung berhati-hati terhadap aset negara berkembang di Asia, terutama di pasar obligais dipicu oleh beberapa faktor.
Pertama, ekspektasi suku bunga AS yang bertahan tinggi lebih lama (higher for longer) membuat investor mengalihkan investasi mereka menuju aset yang lebih aman, dalam hal ini dolar AS dan US Treasury.
Kedua, ketidakpastian harga minyak mentah akibat perkembangan negosiasi antara AS dan Iran, sempat diwarnai ancaman Presiden AS, Donald Trump. Selain itu, pelaku pasar sepertinya melihat gangguan pasokan energi global belum sepenuhnya sirna.
Ketiga, adanya kekhawatiran inflasi global, seperti sudah disebut, dipicu oleh harga minyak yang kembali naik di tengah negosiasi AS-Iran. IMF memperkirakan inflasi global berada di kisaran 4%.
Bagi negara-negara berkembang yang bergantung pada impor energi, termasuk Indonesia, lonjakan harga minyak mentah dunia berpotensi meningkatkan tekanan inflasi, memperlebar defisit transaksi fiskal, serta menekan rupiah.
Di Indonesia, sinyal inflasi sebenarnya sudah nyaring dari data Mei 2026 yang mencatat inflasi sebesar 3,08% dari posisi sebelumnya. Peningkatan inflasi terutama didorong oleh lonjakan inflasi pangan, yang naik menjadi 4,94% secara tahunan dari 3,06% secara tahunan pada bulan sebelumnya, sekaligus menjadi level tertinggi dalam delapan bulan terakhir.
Selama tekanan eksternal masih tinggi dan inflasi belum kembali ke jalur target yang dipatok bank sentral, pasar sepertinya akan terus memperkirakan bahwa suku bunga harus bertahan tinggi lebih lama.
Hal ini pada akhirnya memicu investor menjual obligasi dengan nilai yield atau imbal hasil yang berlaku, sambil berekspektasi terhadap kenaikan yield pada penerbitan obligasi selanjutnya, di tengah premi risiko yang meningkat.
(dsp/aji)



























