Logo Bloomberg Technoz

Perkembangan di Timur Tengah masih menjadi beban bagi laju harga emas. Terbaru. Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump kembali memberikan ancaman kepada Iran.

Dalam unggahan di media sosial, Trump menegaskan akan menyerang Iran jika tidak bisa menghentikan “proxy bayaran mereka di Lebanon” untuk membuat kekacauan. Proxy tersebut mengacu kepada faksi Hizbullah di Lebanon, yang tengah terlibat konflik dengan Israel.

Kemudian dalam wawancara dengan Fox News, Trump juga mengungkapkan AS akan memungut bayaran untuk melewati Selat Hormuz jika kesepakatan tidak tercapai. “Kalau Anda menutup Hormuz, maka Anda tidak akan bisa mendapatkannya kembali,” ujarnya.

Berbagai ancaman tersebut tentu tidak dipandang sebelah mata. Media Iran melaporkan bahwa Teheran menunda dialog dengan Washington yang sedang dihelat di Swiss gara-gara manuver Trump.

Harga minyak pun menghijau pagi ini. Pada pukul 07:26 WIB, harga minyak jenis brent naik nyaris 1% ke US$ 81,3/barel.

Konflik di Timur Tengah yang berkepanjangan dan kenaikan harga minyak membuat dunia masih dihantui risiko inflasi tinggi. Alhasil, sangat sulit buat bank sentral di berbagai negara untuk melonggarkan kebijakan moneter. Bahkan opsi pengetatan melalui kenaikan suku bunga acuan sudah dilakukan di beberapa negara, seperti Indonesia.

Emas adalah aset yang tidak memberikan imbal hasil (non-yielding asset). Memegang emas menjadi kurang menguntungkan saat suku bunga tinggi.

(aji)

No more pages