Logo Bloomberg Technoz

Mulai dari ketergantungan terhadap belanja pemerintah di sektor kesehatan, gangguan pasokan bahan baku impor, persaingan industri alat kesehatan, hingga volatilitas harga saham di pasar sekunder.

Bagi investor, manajemen perseroan mengingatkan bahwa harga saham setelah IPO dapat bergerak fluktuatif dipengaruhi oleh berbagai faktor, termasuk kondisi ekonomi, sentimen pasar, kinerja perusahaan, hingga dinamika pasar modal Indonesia yang cenderung volatil.

Di samping itu, risiko yang dinilai paling signifikan terhadap kelangsungan usaha perseroan adalah tingginya ketergantungan terhadap anggaran pemerintah di sektor kesehatan.

"Pendapatan usaha perseroan saat ini sebagian besar berasal dari belanja pemerintah pada fasilitas pelayanan kesehatan milik pemerintah atau yang bergantung pada pembiayaan program pemerintah. Sehingga APBN pada sektor kesehatan sangat berpengaruh pada pendapatan usaha Perseroan," tulis manajemen PRDL dalam prospektus, dikutip Kamis (18/6/2026).

Perseroan juga mengingatkan bahwa perubahan kebijakan pengadaan barang dan jasa, sistem e-katalog, mekanisme pembayaran, hingga keterlambatan pembayaran dapat memengaruhi arus kas dan penjualan perusahaan.

Di sisi operasional, perseroan menghadapi risiko terkait ketersediaan bahan baku, bahan pendukung, dan komponen impor yang digunakan dalam produksi produk In Vitro Diagnostic (IVD).

Gangguan rantai pasok global, pembatasan ekspor, fluktuasi geopolitik, hingga keterbatasan kapasitas produksi pemasok berpotensi menghambat pengadaan bahan baku dan meningkatkan biaya produksi.

Perseroan juga menyoroti risiko perubahan pola penyakit dan kondisi kesehatan masyarakat yang dapat memengaruhi permintaan produk diagnostik. Berakhirnya kondisi luar biasa, seperti pandemi, berpotensi menekan volume penjualan dan utilisasi kapasitas produksi.

Selain itu, industri IVD di Indonesia juga dihadapkan pada persaingan yang ketat dengan produsen global dan distributor produk impor yang memiliki merek kuat, teknologi lebih maju, serta jaringan distribusi yang luas.

"Apabila perseroan tidak mampu mempertahankan kualitas produk, layanan purna jual, serta daya saing harga, maka kinerja usaha dapat berdampak secara material," lanjut manajemen perseroan.

Risiko lainnya juga membayangi kelanjutan bisnis perseroan seperti perkembangan teknologi yang berlangsung cepat, belum adanya perjanjian pembelian jangka panjang dengan sebagian pelanggan, potensi klaim hukum atas produk, perubahan regulasi pemerintah, hingga fluktuasi nilai tukar rupiah.

(cpa/naw)

No more pages