Logo Bloomberg Technoz

FIFA pada lamannya menulis, tak ada yang mengira Tanjung Verde bisa bersaing. Bahkan saat timnas tersebut harus menjalani debutnya melawan favorit juara Piala Dunia 2026. Sebelum laga, pembicara penikmat sepak bola tak mempertanyakan apakah Spanyol akan menang, tetapi berapa gol yang dicetak La Furia Roja malam itu.

Pada akhirnya, gawang tidak bergetar sama sekali. Bahkan bintang Timnas Spanyol Lamine Yamal yang juga tampil memukau dari bangku cadangan pada menit ke-71 tetap tak bisa merobek pertahanan Hiu Biru. Penyelamatan gemilang Vozinha memastikan tim asuhan Bubista meraih satu poin yang mengguncang dunia olahraga. 

Vozinha dan Sepakbola

Kiper Tanjung Verde ini lahir dengan nama Josimar Dias. Namun, sebelumnya, ayahnya yang bernama Ze Pedro ingin memberi nama puteranya tersebut Jorge Valdano -- pemain Timnas Argentina yang mencetak 4 gol di Piala Dunia 1985 Meksiko. 

Namun, cita-cita Ze Pedro terjegal karena petugas catatan sipil menolak mencatatkan nama asing bagi anak-anak yang lahir di wilayah Tanjung Verde. Akhirnya, Ze Pedro memilih nama pemain Timnas Brasil yang juga menjadi sorotan di Piala Dunia 1986 Meksiko yaitu Josimar.

“Di dunia sepak bola, saya dikenal sebagai Vozinha. Namun, saya ingin menyampaikan terima kasih kepada Jorge Valdano dan Josimar, yang menjadi inspirasi di balik nama saya,” kata Vozinha usai laga vs Timnas Spanyol dikutip dari laman FIFA.

“Orang-orang di Cabo Verde cenderung mendukung negara-negara berbahasa Portugis lainnya seperti Brasil dan Portugal. Pada akhirnya, ini semua tentang kecintaan pada sepak bola.”

Lantas bagaimana bisa berubah jadi Vozinha?

Josimar kecil tumbuh di bawah asuhan kakek dan neneknya. Hal ini terjadi karena ibunya harus menjalani pekerjaan berjam-jam, sedangkan ayahnya menjalani wajib militer.

Saat itu, dia seperti anak-anak pada umumnya di Tanjung Verde yang gemar bermain sepak bola jalanan. Dia pun kerap harus bertanding atau melawan anak-anak yang lebih tua dengan postur tubuh yang lebih besar.

Dalam permainan, Josimar sering mengalami luka-luka akibat benturan. Selain itu, dia tumbuh menjadi anak yang tak mau menerima kekalahan. Setiap kali hal itu terjadi, dia pun berlari ke rumah dan mengadu ke neneknya.

Teman-teman Josimar kemudian menyebutnya Vozinha yang berarti 'lari ke nenek'.

"Dulu aku sering banget kena hantaman, dan setiap kali aku nggak bisa membalasnya, aku pulang ke rumah dengan marah dan cemberut,” kata dia.

Dia pun mendedikasikan hasil imbang Tanjung Verde melawan Timnas Spanyol bagi kakek dan neneknya yang telah meninggal dunia dua tahun yang lalu.

“Saya sangat bersyukur kepada orang tua dan kakek-nenek saya, yang kini menatap saya dari atas,” kata Vozinha.

"Mereka yang membesarkan saya. Jika mereka masih hidup hari ini, mereka pasti akan sangat bangga pada cucu mereka. Itulah mengapa hal ini sangat berarti bagi saya. Ini adalah sesuatu yang telah diimpikan oleh orang-orang Cabo Verde sepanjang hidup mereka.”

Tampaknya kisah Cabo Verde di Piala Dunia ini berhasil menarik simpati pendukung jauh melampaui batas negaranya. Perhatian global begitu besar sehingga jumlah pengikut Vozinha melonjak dari 50.000 pada awal pertandingan menjadi jutaan dan terus bertambah hingga akhir hari.

(dov/frg)

No more pages