Sementara itu, MSCI China Index mendekati wilayah bear market setelah merosot 18% dari puncaknya pada Oktober lalu.
“Indeks-indeks ini mengukur sisi ekonomi yang salah,” kata Hao Hong, Chief Investment Officer di Lotus Asset Management.
“Sebagian besar konstituennya adalah saham ekonomi lama (old economy) yang memiliki sedikit eksposur terhadap AI, sehingga tidak banyak investor yang memperhatikannya.”
Berbeda dengan indeks di Taiwan dan Korea Selatan, di mana perusahaan semikonduktor menyumbang setidaknya setengah dari bobot indeks, saham sektor keuangan menyumbang lebih dari 28% bobot dalam Hang Seng China Enterprises Index, sementara saham konsumen mencakup hampir 23%.
Bahkan sektor internet yang dulu menjadi pendorong utama optimisme terhadap saham China offshore kini mulai kehilangan momentum.
Perusahaan seperti Alibaba Group Holding dan Tencent Holdings melaporkan pendapatan kuartal Maret yang berada di bawah perkiraan analis akibat besarnya investasi pada AI, ketatnya persaingan domestik, dan lemahnya sentimen konsumen.
Menurut data Bloomberg, analis telah memangkas proyeksi laba ke depan untuk anggota HSCEI hampir 3% dibandingkan setahun lalu. Sebaliknya, proyeksi laba untuk KOSPI melonjak 246%, sedangkan indeks TAIEX naik 58%.
“Kekhawatiran bahwa suku bunga AS akan tetap tinggi lebih lama akibat inflasi, kekecewaan laba dari sejumlah raksasa e-commerce karena persaingan yang makin ketat, serta larangan Beijing terhadap bisnis pialang lintas batas ilegal telah menekan sentimen investor,” tulis analis Bloomberg Intelligence Sharnie Wong dalam catatan tertanggal 12 Juni.
Dukungan dari investor domestik China juga mulai memudar. Investor daratan menjual bersih saham Hong Kong senilai HK$3,6 miliar (US$460 juta) melalui program Stock Connect pada Mei, yang merupakan arus keluar bulanan pertama sejak Juni 2023, menurut Bloomberg Intelligence.
Meski demikian, sebagian investor melihat peluang pemulihan pada saham China offshore karena valuasinya yang lebih murah serta manfaat diversifikasi portofolio. HSCEI saat ini diperdagangkan pada sekitar 10 kali proyeksi laba, dibandingkan sekitar 20 kali untuk indeks Taiwan dan 17 kali untuk indeks Jepang.
“Segmen seperti properti dan konsumen benar-benar tertinggal, dan terdapat nilai yang menarik di sana,” kata Dale Nicholls, manajer portofolio di Fidelity International. “Rasio risiko dan imbal hasilnya jelas telah membaik.”
Namun demikian, kinerja saham China offshore yang tertinggal kemungkinan masih akan berlanjut dalam jangka pendek di tengah kekhawatiran regulasi yang belum sepenuhnya hilang dan pemulihan ekonomi yang masih rapuh.
Sejumlah kebijakan terbaru kembali memunculkan kekhawatiran mengenai tindakan pengetatan terhadap persaingan usaha.
Goldman Sachs bulan ini menurunkan rekomendasi saham H-share dengan alasan meningkatnya biaya peluang (opportunity cost) karena investor menemukan peluang investasi yang lebih menarik di pasar lain.
“Tidak ada kelompok saham yang akan memperoleh manfaat besar dari reli teknologi dan AI,” kata Chauwei Yak, Chief Executive Officer di GAO Capital. Menurutnya, kondisi tersebut tidak memberikan prospek yang baik bagi kinerja HSCEI ke depan.
(bbn)




























