Pendorong laju harga emas adalah perkembangan di Timur Tengah. Harapan damai antara Amerika Serikat (AS) dan Iran sedang membumbung tinggi.
Kedua negara dikabarkan akan meneken kesepakatan damai interim di sela-sela Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) G7 pekan ini. Salah satu butir kesepakatan itu adalah pembukaan kembali jalur pelayaran di Selat Hormuz dan AS akan mencabut seluruh blokade terhadap pelabuhan Iran.
Presiden AS Donald Trump menyebut banyak kapal sudah siap “terisi dengan minyak” dan akan segera melintasi selat tersebut.
Kabar ini membuat harga minyak dunia jatuh. Kemarin, harga minyak jenis brent ditutup anjlok nyaris 5% ke US$ 83,17/barel.
Apabila harga energi bisa terus terjaga stabil, maka dunia bisa lepas dari ancaman inflasi. Dengan begitu, bank sentral di berbagai negara bisa punya ruang untuk bernapas, tidak perlu terburu-buru menaikkan suku bunga acuan.
Emas adalah aset yang tidak memberikan imbal hasil (non-yielding asset). Memegang emas menjadi kurang menguntungkan saat suku bunga naik.
(aji)






























