Meningkatnya kemarahan publik berpotensi memberi tekanan kepada pemerintahan Presiden Lee Jae Myung, meskipun partai penguasa meraih kemenangan telak dalam pemilu tersebut. Partai Demokrat yang dipimpin Lee memenangkan 12 dari 16 kontestasi utama, tetapi gagal merebut Seoul, wilayah dengan jumlah penduduk terbesar sekaligus yang paling signifikan secara politik. Lee telah menyampaikan penyesalannya atas kekurangan surat suara tersebut dan dijadwalkan menggelar konferensi pers pada Senin untuk menandai satu tahun masa pemerintahannya.
Komisi Pemilihan Nasional menyatakan pihaknya meremehkan tingginya minat masyarakat terhadap pemilu sehingga gagal menyediakan surat suara dalam jumlah yang memadai. Ketua komisi pada Jumat bahkan menawarkan diri untuk mengundurkan diri. Meski telah meminta maaf, komisi menyatakan tidak ada dasar hukum untuk menggelar pemungutan suara ulang berdasarkan peraturan yang berlaku saat ini, sebagaimana dilaporkan Yonhap News.
Partai oposisi People Power Party mendesak dilakukannya penyelidikan parlemen serta reformasi terhadap lembaga penyelenggara pemilu tersebut. Sementara itu, Partai Demokrat menyatakan bergerak cepat untuk menyelidiki masalah tersebut, sembari menuding oposisi memanfaatkan isu tersebut demi keuntungan politik ketimbang membantu menyelesaikan kontroversi.
“Jika pemerintah hanya menutup mata dan berusaha melanjutkan semuanya begitu saja, saya rasa publik tidak akan membiarkannya berlalu tanpa pertanyaan,” kata Jeong. “Kami telah melindungi demokrasi dengan tangan kami sendiri, dan kami harus terus menjaganya.”
Aksi demonstrasi tersebut sebagian besar berlangsung tanpa pemimpin dan tidak terorganisasi secara formal. Para peserta terdengar meneriakkan slogan “pemilu ulang” dan menyanyikan lagu kebangsaan sebagai upaya menjaga aksi tetap bersifat nonpartisan, bukan gerakan yang berafiliasi dengan kelompok oposisi konservatif.
Pada Sabtu sore, suasana di Taman Olimpiade menyerupai sebuah festival warga. Mayoritas peserta merupakan pemilih berusia 20 hingga 30 tahun yang memenuhi taman sambil mengibarkan bendera Korsel buatan tangan yang digambar di buku catatan dan dibagikan oleh para relawan.
Orang tua muda terlihat membawa kereta bayi di tengah kerumunan, sementara sejumlah pasangan menghiasi kereta hewan peliharaan mereka dengan bendera nasional berukuran kecil. Di dekat lokasi, wisatawan mancanegara yang datang untuk menghadiri konser K-pop yang digelar oleh Hybe Co berhenti untuk mengambil foto dan menyaksikan jalannya aksi. Pemandangan tersebut menciptakan kontras yang mencolok antara keramaian hiburan akhir pekan dan gerakan akar rumput yang terus berkembang terkait pemilu.
“Saya datang ke sini bersama anak-anak saya karena ingin mereka memahami pemilu yang bermasalah ini dan melihat sendiri kenyataan yang terjadi,” kata Moon Ah-ram, 33 tahun, yang menghadiri aksi bersama kedua anaknya. “Hak memilih adalah milik rakyat, tetapi pemilu ini sejak awal tidak dipersiapkan dengan baik dan respons pemerintah sulit dipahami. Presiden harus tampil ke depan, meminta maaf, dan pemilu harus diadakan kembali.”
(bbn)


























