Berdasarkan data resmi hingga 16 Mei 2026, tercatat 246 kasus suspek Ebola di wilayah tersebut yang mencakup delapan kasus konfirmasi dan 80 korban meninggal dunia. Tingkat kematian dilaporkan mencapai 32,5 persen. Selain di RD Kongo, kasus terkait perjalanan juga dilaporkan muncul di Kampala, Uganda, dan Kinshasa akibat tingginya mobilitas penduduk serta keterbatasan fasilitas kesehatan.
Ia menjelaskan, langkah penguatan yang dilakukan mencakup penyiagaan petugas kesehatan di lapangan, penguatan skrining pelaku perjalanan, hingga penyiapan prosedur rujukan ke rumah sakit berstandar internasional apabila ditemukan penumpang dengan gejala mengarah pada Ebola.
Selain itu, seluruh laporan dari pintu masuk negara akan terintegrasi selama 24 jam melalui Sistem Kewaspadaan Dini dan Respons (SKDR) serta pusat operasi darurat kesehatan atau Public Health Emergency Operation Center (PHEOC). Kapasitas laboratorium nasional juga disiagakan untuk mendukung deteksi cepat dan respons dini.
Kemenkes juga meminta masyarakat tetap tenang dan tidak mudah percaya terhadap informasi palsu atau hoaks mengenai Ebola yang beredar di media sosial. Edukasi mengenai penyakit tersebut dinilai penting agar masyarakat memahami cara penularan dan pencegahannya.
“Ebola merupakan penyakit infeksi virus yang dapat menyebabkan kematian dengan tingkat fatalitas rata-rata mencapai 50%. Saat ini terdapat tiga jenis strain virus yang sering menyebabkan wabah, yaitu Ebola Virus Disease (EVD), Sudan Virus Disease (SVD), dan yang saat ini berkembang di Kongo yaitu Bundibugyo Virus Disease (BVD),” jelas Aji.
Penularan Ebola terjadi melalui kontak langsung dengan darah, cairan tubuh, atau benda yang terkontaminasi oleh manusia maupun hewan yang terinfeksi. Gejala umumnya muncul mendadak dalam masa inkubasi 2 hingga 21 hari, seperti demam, tubuh lemas, nyeri otot, sakit kepala, muntah, diare, hingga perdarahan.
Kemenkes mengimbau masyarakat untuk kembali memperkuat Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS), seperti rutin mencuci tangan menggunakan sabun, mengenakan masker saat sakit, serta menerapkan etika batuk dan bersin dengan benar.
“Langkah terbaik saat ini adalah tetap waspada dengan rajin mencuci tangan menggunakan air dan sabun, mengenakan masker jika merasa kurang sehat, serta menerapkan etika batuk dan bersin yang benar. Hindari juga kontak langsung dengan orang atau hewan yang sakit,” ujar dia.
Khusus bagi masyarakat yang baru kembali dari negara terdampak seperti RD Kongo dan Uganda, Kemenkes meminta agar segera memeriksakan diri ke fasilitas kesehatan apabila mengalami gejala demam atau perdarahan dalam 21 hari setelah kepulangan. Pemerintah juga menegaskan pentingnya keterbukaan mengenai riwayat perjalanan untuk membantu mencegah potensi penularan lebih lanjut.
(dec)





























