Kinerja operasional fasilitas tersebut dinilai cukup stabil dengan tingkat kelangsungan hidup udang yang disebut melebihi 80%. Pencapaian itu didukung sistem operasional disiplin dan penerapan teknologi akuakultur cerdas yang terus dikembangkan perusahaan.
Selain di Indonesia, PanAsia Group juga memiliki operasional di Sabah, Malaysia Timur. Area strategis seluas sekitar 49 hektar itu telah beroperasi sejak 1998 dan menjadi salah satu fondasi ekspansi regional SMKM di kawasan ASEAN.
Fokus Bangun Ekosistem Akuakultur Regional
Masuknya PanAsia Group ke dalam ekosistem bisnis SMKM dipandang bukan sekadar ekspansi bisnis budidaya udang. Perseroan kini membidik pengembangan ekosistem hilir yang lebih luas, mulai dari pengolahan hasil akuakultur hingga penguatan rantai pasok global.
Direktur PanAsia Group, Chong Chee Hoong, menyebut transformasi ini menjadi titik penting bagi SMKM untuk membangun model bisnis baru yang lebih terintegrasi. Menurutnya, kemampuan konstruksi yang dimiliki SMKM dapat menjadi fondasi utama pembangunan infrastruktur akuakultur berskala besar.
"Evolusi ini memposisikan SMKM sebagai platform multi-layer yang menghubungkan kapabilitas pengembangan infrastruktur dengan kebutuhan ekosistem akuakultur regional. Kami tidak hanya mengelola aset produktif; kami secara progresif membangun sistem operasional terintegrasi yang didukung oleh transfer teknologi, kapabilitas hilirisasi, dan integrasi ekosistem dari hulu ke hilir,” jelas Bapak Chong.
Ia menambahkan pihaknya juga menjalin kerja sama erat dengan manajemen SMKM saat ini yang dipimpin Budi Aris dan Ruben Partogi. Kolaborasi tersebut dilakukan untuk menyatukan visi jangka panjang dan menciptakan sinergi operasional yang lebih kuat selama proses transformasi berlangsung.
“Kami juga bekerja erat dengan tim manajemen SMKM saat ini, yang dipimpin oleh Pak Budi Aris dan Pak Ruben Partogi, untuk menyelaraskan visi jangka panjang yang sama dan menciptakan sinergi operasional yang lebih kuat sepanjang perjalanan transformasi ini," tambahnya.
SMKM menilai sektor akuakultur memiliki potensi besar di kawasan Asia Tenggara, terutama karena meningkatnya kebutuhan pangan berbasis hasil laut dan budidaya. Dengan dukungan teknologi dan integrasi operasional, Perseroan optimistis mampu memperluas skala bisnis secara berkelanjutan.
Strategi perusahaan dalam beberapa tahun ke depan juga akan difokuskan pada pertumbuhan margin melalui sektor perdagangan dan pengolahan hasil akuakultur. Langkah ini didukung kemampuan pengembangan infrastruktur dan jaringan operasional PanAsia Group di berbagai wilayah ASEAN.
Chong mengatakan setelah penyelesaian proses reverse takeover atau RTO, SMKM menargetkan pembangunan infrastruktur akuakultur regional yang terintegrasi dengan operasi yang terus berkembang. Perseroan juga ingin memperkuat partisipasi dalam ekosistem hilirisasi dan pengembangan teknologi operasional.
"Secara strategis, kami fokus pada pertumbuhan margin melalui sektor perdagangan dan pengolahan, yang didukung oleh kemampuan pengembangan infrastruktur dan integrasi operasional PanAsia Group. Dalam lima tahun ke depan, setelah penyelesaian RTO, Perseroan bertujuan untuk membangun infrastruktur akuakultur regional terintegrasi yang signifikan dengan operasi regional yang terus berkembang, partisipasi ekosistem hilirisasi, dan kemampuan operasional berbasis teknologi. Langkah ini merupakan bagian dari komitmen kami untuk memberikan nilai yang berkelanjutan dan terukur bagi seluruh pemegang saham," tutup Bapak Chong.
(tim)
























