Logo Bloomberg Technoz

Sementara itu, negara-negara G7 hanya menyumbang 11% dari potensi kapasitas tenaga angin dan tenaga surya skala utilitas dunia, meski mengendalikan sekitar setengah dari kekayaan global.

Total kapasitas yang sedang dibangun sebagian besar tetap tidak berubah sekitar 520 gigawatt (GW) sejak tahun 2023. Hal ini menggarisbawahi kesenjangan yang semakin lebar antara ambisi iklim dan implementasi di negara-negara maju.

Diren Kocakuşak, Analis Riset GEM, mengatakan, "energi angin dan surya berkembang dengan sangat pesat, dan sebagian besar momentum itu berasal dari negara-negara yang dulunya dianggap sebagai pengikut energi. Pertanyaannya sekarang, apakah negara-negara yang lebih kaya akan menutup kesenjangan antara ambisi dan pelaksanaan, atau menyerahkan kepemimpinan di sektor pertumbuhan yang berkembang pesat ini."

Sebelumnya, analisis baru dari Global Energy Monitor (GEM) menyebut proyek pembangkit listrik tenaga angin (PLTA) dan pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) skala utilitas yang direncanakan mencapai rekor hampir 5 terawatt (TW) pada tahun 2025.

Secara global, energi surya skala utilitas memimpin perluasan proyek energi bersih ini. Proyek energi surya skala utilitas tumbuh sebesar 17% dan melampaui 2,2 TW, sedangkan proyek energi angin tumbuh sebesar 7%, yakni 2,7 TW.

"Kapasitas pembangkit listrik tenaga angin dan tenaga surya skala besar yang telah diumumkan, dalam tahap pra-konstruksi, dan dalam tahap konstruksi tumbuh 11% dari tahun ke tahun, meningkat dari 4,4 TW menjadi lebih dari 4,9 TW," bunyi analisis bertajuk Global Solar and Wind Trackers, dikutip Kamis (7/5/2026).

Namun, laporan GEM tersebut menjelaskan bahwa negara-negara dengan perekonomian terkaya di dunia tidak lagi menjadi penggerak pembangunan energi bersih.

"Namun, meskipun momentum secara keseluruhan terus berlanjut, pertumbuhan semakin terkonsentrasi di negara-negara berkembang."

GEM memandang hal ini menandai tonggak penting menuju pencapaian target global untuk melipatgandakan kapasitas energi terbarukan. Pasalnya, tenaga angin dan tenaga surya diperkirakan akan mencakup 94% dari penambahan energi terbarukan menuju target tiga kali lipat tersebut.

Pertumbuhan tahunan dalam proyek PLTA dan PLTS skala utilitas sebenarnya telah melambat dari 22% pada 2024 menjadi 11% pada 2025. Data GEM mengungkap tren ini lebih terlihat pada proyek PLTA, dengan penurunan 13% dari tahun 2024, dibandingkan dengan penurunan 7% pada proyek PLTS.

"Pada 2025, pengembang energi angin mengalami hambatan politik dan serangkaian kegagalan lelang tenaga angin. Penurunan rencana pengembangan energi angin dapat berdampak besar pada pembangkitan listrik di masa depan, mengingat faktor kapasitas energi angin yang lebih tinggi dibandingkan energi surya," papar analisis tersebut.

Tren pertumbuhan prospek PLTA dan PLTS skala utilitas begitu penting guna memenuhi komitmen COP28 untuk melipatgandakan kapasitas energi terbarukan pada 2030, seiring dunia memasuki lima tahun terakhir periode implementasi.

(ros)

No more pages