Logo Bloomberg Technoz

Fahmy mewaspadai teknologi injeksi CNG ke tabung di Stasiun Pengisian Bahan Bakar Gas (SPBG) tidak cocok untuk digunakan pada tabung 3 kg.

“Masalahnya itu dibutuhkan teknologi injeksi agar bisa digunakan dalam tabung yang lebih kecil; apakah 12 kilogram atau 3 kilogram. Selama ini teknologi yang digunakan itu untuk injeksi tabung-tabung yang besar itu,” ungkap Fahmy.

Kota Besar

Setala, ekonom energi dari Universitas Padjadjaran Yayan Satyakti juga memprediksi pemerintah membutuhkan waktu 1 hingga 2 tahun untuk mengembangkan tabung CNG berukuran 3 kg.

Dia berharap program tersebut nantinya diimplementasikan di kota-kota besar di Pulau Jawa, sebelum akhirnya diterapkan secara nasional.

Yayan meyakini masifikasi CNG memberikan banyak keuntungan bagi Indonesia, sebab memiliki harga yang lebih murah sekitar 30%--40% dibandingkan dengan gas minyak cair atau liquified petroleum gas (LPG).

Selain itu, masifikasi CNG diprediksi Yayan bisa mengurangi subsidi hingga 30%. Dia juga mencatat CNG memiliki emisi yang lebih rendah sekitar 20%—25% dibandingkan dengan LPG.

“Saya perkirakan paling cepat tahun depan 1—2 tahun, jangan terburu-buru karena kebijakan ini sangat baik jadi harus baik, efisien, dan efektif. Mungkin yang diprioritaskan kota-kota besar di Jawa,” kata Yayan ketika dihubungi, Kamis (7/5/2026).

Kementerian ESDM sedang mengkaji penggunaan tabung CNG tipe 4, yakni tabung dengan bahan plastik atau polimer dan dibungkus dengan komposit atau carbon fiber serta fiberglass untuk digunakan sebagai bahan tabung CNG 3 kg.

Direktur Jenderal Minyak dan Gas (Dirjen Migas) Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Laode Sulaeman menyatakan dalam waktu 3 bulan ke depan bakal dilakukan uji coba pengembangan tabung CNG dengan volume 3 kg.

Usai uji coba rampung, produksi tabung CNG 3 kg bakal dimasifkan sehingga dapat segera digunakan masyarakat untuk konversi penggunaan LPG 3 kg.

“Ini bukan di tahap kajian ya, ini sudah di tahap implementasi. Mengapa harus ada tabung ini, cuma tabung ini kan yang belum ada itu cuma tipe 4 untuk 3 kg. Itulah yang dikejar dalam waktu Pak Menteri sampaikan 3 bulan ke depan itu sudah ada tipe 4 untuk 3 kg dan dari situ nanti kita sudah mulai memproduksi dalam jumlah yang lebih masif,” kata Laode dalam diskusi publik di kawasan Jakarta Selatan, Selasa (5/5/2026).

Di sisi lain, Laode juga memastikan penggunaan CNG dalam tabung 3 kg untuk kebutuhan rumah tangga tidak memerlukan penggantian kompor. Dengan begitu, kompor LPG yang saat ini digunakan masyarakat dapat langsung menggunakan CNG.

Dia memastikan masyarakat tak perlu menyesuaikan kompor yang dimiliki dengan memasang pengonversi (converter) atau alat lainnya.

“Dan apinya lebih panas juga, apinya tetap lebih biru malah kalau saya perhatikan seperti itu. Nah, itulah yang sekarang makanya Lemigas dalam setiap tahapan-tahapan uji tabung kita lakukan, kemudian uji tekan, dan lain-lain ini memang faktor yang paling penting,” tegas Laode.

Dia menambahkan bakal terdapat pilot project atau proyek percontohan yang dijalankan di kota-kota besar di Pulau Jawa.

Proyek percontohan tersebut ditargetkan mulai dijalankan tahun ini, utamanya setelah uji coba tabung CNG 3 Kg rampung dilakukan dalam waktu 3 bulan ke depan.

Berdasarkan penjelasan Kementerian ESDM, CNG merupakan bahan bakar gas yang dibuat dengan mengompresi gas alam yang terdiri dari C1 atau metana dan C2 atau etana.

Kemudian, CNG disimpan dan didistribusikan dalam bejana tekanan atau tabung pada tekanan tinggi, antara 200 hingga 250 bar (setara 2.900 hingga 3.600 psi).

Ketahanan tabung juga diklaim dapat mencapai 650 baru atau 9.427 psi. Dengan begitu, tabung CNG bakal memiliki toleransi yang besar untuk kebutuhan keamanan.

(azr/wdh)

No more pages