Logo Bloomberg Technoz

Di sisi lain, produksi konsentrat pada awal tahun ini mencapai 167.792 metrik ton kering atau naik 110% jika dibandingkan dengan periode yang sama pada tahun lalu sejumlah 79.741 metrik ton kering.

Sementara itu, produksi tembaga mencapai 101 juta pon atau naik 173% dibandingkan dengan kuartal I-2025 yang sebanyak 71 juta pon.

Lalu, produksi emas perseroan pada awal tahun ini mencapai 136.115 ons atau naik 321% dari realisasi kuartal I-2025 sejumlah 32.3240 ons.

Lebih lanjut, pada kuartal I-2026, volume material yang ditambang menjadi 56 juta ton. Volume bijih yang ditambang naik dari 1 juta ton pada kuartal I-2025, menjadi 38 juta ton pada kuartal I-2026.

Perseroan mencatat kadar tembaga yang diolah meningkat menjadi 0,53% pada kuartal I-2026, dibandingkan dengan 0,31% pada periode yang sama tahun lalu. Begitu juga dengan emas, naik menjadi 0,54 gram per ton dari kuartal I-2025 sebesar 0,17 gram per ton.

“Peningkatan signifikan dalam volume bijih segar yang ditambang pada Q1 2026 mencerminkan transisi yang telah direncanakan dari kegiatan pengupasan lapisan batuan penutup ke ekstraksi bijih segar, sesuai dengan rencana tambang,” ungkap Amman.

Dari sisi penjualan, pada kuartal I-2026 Amman mencatatkan penjualan bersih sebesar US$808 juta. Penjualan tersebut terdiri dari katoda tembaga sebesar US$391 juta, emas murni sebesar US$82 juta, dan US$334 juta dari penjualan konsentrat.

“Penjualah bersih meningkat secara material karena kemampuan untuk menjual konsentrat serta ramp up smelter yang berjalan secara stabil,” ungkap perseroan.

Sekadar informasi, Kementerian Perdagangan mencatat realisasi ekspor konsentrat tembaga anak usaha AMMN, PT Amman Mineral Nusa Tenggara (AMNT), mencapai 296.000 metrik ton basah atau baru sekitar 56% dari alokasi ekspor konsentrat perseroan.

Direktur Ekspor Produk Industri dan Pertambangan Ditjen Perdagangan Luar Negeri Kemendag M. Rivai Abbas mengungkapkan realisasi ekspor tersebut tercatat menjelang berakhirnya izin pada Akhir 2026.

Dia juga menegaskan data tersebut masih bersifat sementara dan saat ini Kemendag terus berkoordinasi dengan Direktorat Jenderal Bea dan Cukai (DJBC) Kementerian Keuangan untuk memverifikasi data tersebut.

“Realisasi ekspor hingga menjelang berakhirnya izin pada akhir April 2026 tercatat sekitar 296.000 wet metric ton atau sekitar 56% dari total alokasi yang diberikan,” kata Rivai kepada Bloomberg Technoz, Senin (4/5/2026).

Rivai juga memastikan hingga saat ini belum menerima pengajuan perpanjangan relaksasi ekspor konsentrat dari Amman Mineral.

“Adapun terkait dengan perpanjangan izin ekspor, hingga saat ini belum terdapat pengajuan resmi perpanjangan relaksasi ekspor yang kami terima,” tegas Rivai.

Amman Mineral mendapat persetujuan ekspor konsentrat tembaga sebesar 480.000 metrik ton kering dengan periode 31 Oktober 2025 sampai April 2026.

Persetujuan ekspor konsentrat tembaga itu diberikan selepas AMMN melaporkan keadaan kahar di smelter tembaga perseroan di Nusa Tenggara Barat, Oktober 2025. Smelter AMMN menghentikan operasi sejak Juli 2025.

Manajemen AMMN menerangkan keadaan kahar itu disebabkan karena kerusakan pada unit flash converting furnance (FCF) dan sulfuric acid plant.

"Kami menyampaikan apresiasi atas dukungan dari berbagai instansi, terutama Kementerian ESDM, yang telah berkoordinasi erat untuk memahami kendala teknis di fasilitas smelter Amman," ujar Direktur Utama PT AMNT Rachmat Makassau dalam siaran pers, Sabtu (1/11/2025).

Dalam perkembangannya, smelter katoda tembaga AMMN kembali beroperasi pada akhir Januari 2026 setelah sempat diberhentikan sementara sejak Juli 2025 gegara keadaan kahar.

Smelter yang berlokasi di Kabupaten Sumbawa Barat, NTB itu memiliki kapasitas pengolahan 900.000 ton konsentrat tembaga per tahun, dengan target produksi 220.000 ton katoda tembaga.

(azr/wdh)

No more pages