Perubahan ini kemudian mendorong munculnya kebutuhan akan layanan penitipan anak atau daycare sebagai pengganti peran pengasuh dalam keluarga besar. Namun, tidak semua layanan tersebut berjalan dengan standar yang memadai.
“Ketika rasio pengasuh dan anak tidak seimbang, bahkan satu pengasuh merawat lebih dari empat anak, maka potensi pengasuhan yang tidak manusiawi bisa terjadi,” jelasnya.
Menurutnya, masalah tidak berhenti pada penyedia layanan, tetapi juga pada pengawasan orang tua. “Banyak orang tua yang pasrah total pada daycare tanpa berusaha tetap melakukan kontrol atau pengawasan terhadap jalannya pengasuhan,” ujarnya, menyoroti pentingnya fungsi proteksi dalam keluarga yang kerap terabaikan.
Di sisi lain, peristiwa kecelakaan kereta di Bekasi Timur juga menyoroti peran perempuan dalam ruang publik. Wakil Ketua KPAI, Jasra Putra, mengungkapkan bahwa mayoritas korban meninggal adalah perempuan. “Mereka bukan sekadar penumpang; mereka bisa jadi adalah tulang punggung ekonomi keluarga, ibu dari anak-anaknya, dan harapan masa depan keluarganya,” ujarnya.
Kehilangan tersebut, lanjut Jasra, membawa dampak besar bagi keluarga yang ditinggalkan. “Kehilangan yang terjadi secara tiba-tiba akan membawa kesedihan mendalam dan berdampak luar biasa bagi keluarga,” katanya.
Salah satu kisah pilu datang dari almarhumah Nuryati yang meninggalkan anak kembar. Tragedi ini menggambarkan bagaimana satu peristiwa dapat meruntuhkan banyak fungsi dalam keluarga sekaligus, mulai dari peran pengasuhan hingga stabilitas ekonomi.
Cerita lain yang beredar di media sosial juga memperlihatkan kompleksitas dampak tragedi ini. Seorang ibu yang baru kembali bekerja usai cuti melahirkan dikabarkan turut menjadi korban. Jika informasi ini benar, maka ada bayi yang harus tumbuh tanpa kehadiran ibu sejak dini, serta keluarga yang harus menghadapi kehilangan mendadak tanpa persiapan.
Selain korban meninggal, puluhan korban luka juga menghadapi tantangan panjang dalam proses pemulihan fisik dan psikologis. Kehilangan kemampuan bekerja serta trauma yang dialami berpotensi menambah beban ekonomi dan sosial bagi keluarga mereka.
Jasra menegaskan pentingnya langkah konkret dari berbagai pihak. “Kami berharap ada perlindungan sosial, jaminan pengobatan, serta pendampingan psikologis yang berkelanjutan bagi korban dan keluarganya,” ujarnya.
Ia juga mendorong perusahaan untuk memberikan kebijakan yang berpihak pada kemanusiaan, termasuk hak cuti dan dukungan bagi pekerja terdampak.
Di tengah perdebatan publik, suara masyarakat juga mengingatkan pentingnya empati. Suci, seorang karyawan swasta sekaligus ibu rumah tangga, menilai bekerja bukan sekadar pilihan, tetapi kebutuhan.
“Menjadi ibu bukan berarti harus selalu di rumah. Bekerja juga membantu secara mental dan ekonomi,” ujarnya.
Pandangan serupa disampaikan Aisyah yang menyoroti fenomena “mom shaming” di ruang publik. Ia menilai komentar yang menyalahkan perempuan justru tidak membantu. “Daripada menghakimi, lebih baik fokus pada akar masalah. Baik kasus daycare maupun KRL, keduanya menunjukkan bahwa sistem kita belum sepenuhnya aman,” katanya.
Rangkaian peristiwa ini menunjukkan bahwa persoalan yang dihadapi perempuan tidak bisa dilihat secara parsial. Alih-alih menyalahkan pilihan individu, perhatian seharusnya diarahkan pada pembenahan sistem, baik dalam pengasuhan anak maupun keselamatan transportasi publik, agar tragedi serupa tidak terus berulang.
(dec)


























