Adapun mengenai potensi nilai valuasi maupun besaran emisi saham yang akan ditawarkan ke publik, Anggono menyebut hal tersebut masih belum dapat ditentukan.
“Ini masih tergantung arahannya seperti apa nantinya.”
Arahan Menko
Airlangga Hartarto sebelumnya menyoroti sepinya IPO di BEI pada kuartal I-2026. Ia menilai ketidakpastian global menjadi salah satu faktor yang membuat realisasi IPO masih tertahan dalam pipeline.
“Mungkin dalam periode first quarter ini ketidakpastian tinggi, sehingga ini masih dalam pipeline,” kata Airlangga.
Pemerintah pun mendorong Otoritas Jasa Keuangan dan Bursa Efek Indonesia untuk mempercepat eksekusi perusahaan-perusahaan yang telah masuk dalam daftar rencana IPO tahun ini.
Menurut data BEI, terdapat sekitar 16 perusahaan yang masih berada dalam pipeline untuk melantai di pasar modal pada 2026. IPO dari perusahaan-perusahaan tersebut dinilai penting untuk menopang kinerja indeks saham domestik ke depan.
(dhf)




























