Rupiah masih menjadi yang terlemah di Benua Kuning.
Bagi rupiah pergerakan harga minyak jadi salah satu faktor tekanan dominan, selain tentu saja kondisi fiskal yang terjepit. Tekanan kenaikan harga minyak jadi faktor dominan karena Indonesia dipersepsikan sebagai negara pengimpor minyak.
Lionel Priyadi, Fixed Income & Macro Strategist Mega Capital Sekuritas menyebut depresiasi rupiah masih berpeluang berlanjut hari ini ke rentang Rp17,300-17,400/US$. "Hal ini dipicu oleh ketidakjelasan arah kebijakan moneter the Fed. Walaupun Gubernur Jerome Powell mencoba menjaga forward guidance tetap dovish," kata Lionel.
Senada, menurut Josua Pardede, Kepala Ekonom Bank Permata, selama tekanan geopolitik belum reda, pasar bisa memperlakukan Rp17.300–Rp17.500/US$ sebagai rentang perdagangan jangka pendek.
Namun Josua menambahkan, rupiah masih berpeluang kembali ke bawah Rp17.200/US$ dan perlahan bisa mendekati kisaran Rp16.800–Rp17.100/US$. Tentu dengan catatan harga minyak telah turun, arus modal membaik, dan Bank Indonesia (BI) bersama pemerintah mampu menurunkan kekhawatiran fiskal.
Rupiah di Bank
Kemarin, nilai kurs rupiah terhadap dolar AS di pasar spot beberapa bank telah mematok harga rupiah di atas Rp17.300/US$.
Bank Badan Usaha Milik Negara (BUMN) seperti PT Bank Mandiri (Persero) Tbk (BMRI) telah mematok Rp17.370/US$ untuk transaksi fisik, untuk transaksi online Rp17.290/US$. Sedangkan PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk (BBNI) mematok Rp17.385/US$ untuk transaksi online, dan Rp17.370/US$ untuk transaksi fisik.
Sementara itu, Bank Umum Swasta Nasional (BUSN) seperti PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) mematok lebih mahal lagi, Rp17.465/US$ untuk transaksi fisik, dan Rp17.385/US$ untuk transaksi online, sedangkan di PT Bank CIMB Niaga Tbk (BNGA) Rp17.339/US$.
(dsp/aji)





























