Logo Bloomberg Technoz

Pengacara OpenAI, William Savitt, menolak penjelasan Musk, dan meminta Hakim Distrik AS Yvonne Gonzalez Rogers untuk membatalkan kesaksian tersebut karena Musk bukanlah seorang pengacara yang dapat memberikan analisis hukum. Gonzalez Rogers menolak permintaan tersebut. 

Elon Musk menggugat OpenAI untuk menghentikan 'penjarahan' yang dilakukan Altman (Bloomberg)

Dalam pernyataannya sendiri kepada juri, Savitt berargumen bahwa gugatan Musk pada dasarnya merupakan caranya untuk melemahkan kompetitor utama perusahaannya sendiri, xAI. Savitt menambahkan bahwa Musk sendiri merupakan pendukung restrukturisasi OpenAI menjadi entitas yang berorientasi profit pada tahun-tahun awalnya.

Hasil persidangan selama tiga minggu ini dapat menentukan masa depan OpenAI, yang tengah menargetkan aksi korporasi IPO atau penawaran umum perdana. Rencana penggalangan dana dan diperkirakan akan menjadi salah satu yang terbesar dalam sejarah. Valuasi OpenAI terakhir ditaksir mendekati US$1 triliun.

Di antara perubahan yang diinginkan Musk adalah perintah pengadilan untuk membatalkan restrukturisasi OpenAI menjadi entitas nirlaba yang telah diselesaikan pada bulan Oktober. 

Musk menghabiskan sebagian besar kesaksian awalnya dengan menceritakan kepada juri tentang usaha bisnisnya, termasuk Zip2, PayPal, SpaceX, Neuralink, dan Tesla. Ia mengatakan telah lama tertarik pada kecerdasan buatan, namun selalu memiliki kekhawatiran atas teknologi tersebut akan menjadi lebih cerdas dan lebih kuat daripada kecerdasan manusia

Musk, yang mengenakan setelan hitam dan dasi seperti pada penampilannya di ruang sidang sebelumnya, sesekali melontarkan komentar singkat. Orang terkaya di dunia ini telah bersaksi di hadapan sejumlah juri dalam sengketa hukum di seluruh negeri, dan memenangkan sebagian besar kasusnya. 

Musk mengatakan kepada para juri bahwa ada risiko AI bisa menjadi “pedang bermata dua,” sebuah alat yang memberikan kontribusi dan kemajuan signifikan bagi masyarakat, namun juga sesuatu yang bisa berujung pada bencana.

“Ini bisa membuat semua orang sejahtera, tetapi juga bisa membunuh kita semua,” kata Musk.

Sekitar tahun 2015, Musk mengatakan bahwa ia berbicara dengan “siapa saja dan kepada siapa pun” yang bisa ia ajak bicara mengenai kemampuan AI, beserta kecemasannya terkait bagaimana teknologi tersebut mungkin dikembangkan. Termasuk di antaranya adalah salah satu pendiri Google, Larry Page.

Musk mengatakan bahwa ia merasa eksekutif teknologi tersebut “tidak cukup peduli terhadap keamanan AI” dan meremehkan pertanyaan-pertanyaan yang diajukan Musk mengenai masa depan hipotetis di mana “AI memusnahkan manusia.”

“Dia mengatakan itu tidak masalah selama kecerdasan buatan tetap bertahan,” kata Musk. “Lalu dia menyebut saya terlalu hypothetical karena lebih peduli pada manusia daripada AI.”

Musk mengatakan dia menganggap hal itu “gila” dan dia yakin perlu ada alternatif terhadap teknologi Google, karena perusahaan tersebut merupakan pemimpin awal dalam pengembangan AI. Saat itu, Musk mengatakan mereka memiliki “semua dana, semua komputer, dan semua talenta untuk AI.”

“Saya berpikir, ‘apa yang menjadi lawan dari Google? Sebuah organisasi sumber terbuka dan nirlaba,” kata Musk.

Google, yang merupakan bagian dari Alphabet Inc. dan bukan pihak dalam persidangan ini, belum segera menanggapi permintaan komentar.

Pengacara Musk, Steven Molo, mengatakan kepada juri bahwa persidangan ini akan menunjukkan bahwa Altman dan Brockman memanfaatkan uang, reputasi, dan pembinaan Musk untuk mengembangkan OpenAI — dan kemudian memutuskan untuk mengabaikan prinsip-prinsip yang berorientasi pada kepentingan publik serta memanfaatkan proyek tersebut demi keuntungan pribadi mereka. 

Molo menuduh bahwa Microsoft Corp. adalah kaki tangan yang sadar akan pengkhianatan tersebut ketika raksasa perangkat lunak itu menyuntikkan dana sebesar US$13 miliar ke OpenAI mulai tahun 2019, setahun setelah Musk meninggalkan dewan direksi perusahaan rintisan tersebut. 

Microsoft mendukung Altman dan Brockman saat mereka “secara mutlak mencibir misi amal OpenAI,” kata Molo kepada sembilan anggota juri. 

CEO OpenAI Sam Altman. (Dok: Bloomberg)

Dalam pernyataannya sendiri kepada juri, Savitt mengatakan bahwa pada tahun pertama OpenAI sebagai laboratorium penelitian nirlaba, Musk menulis dalam sebuah email: “mungkin lebih baik memiliki perusahaan standard C  dibandingkan lembaga nirlaba paralel.”

Tahun berikutnya, Musk mengatakan dalam email lain bahwa “mungkin merupakan kesalahan bagi OpenAI untuk didirikan sebagai lembaga nirlaba, mengingat kemajuan yang dicapai DeepMind,” kata Savitt, merujuk pada proyek AI di Google.

Sekitar 10 tahun silam Musk dan koleganya di OpenAI menyadari bahwa perusahaan tersebut perlu mengeluarkan biaya yang jauh lebih besar untuk sumber daya komputasi guna mendukung teknologinya daripada yang mereka perkirakan sebelumnya. Para pendiri mengadakan “puluhan” pertemuan dan sepakat untuk membentuk divisi yang berorientasi pada keuntungan. 

“Selama diskusi intensif pada tahun 2017 ini, Musk tidak pernah menyatakan pandangan bahwa OpenAI harus tetap murni nirlaba,” kata Savitt. “Justru sebaliknya.”

Pengacara OpenAI, William Savitt usai sidang perselisihan terkait OpenAI antara Elon Musk dan Sam Altman (Bloomberg)

Musk, kata Savitt, “ingin mengubah OpenAI menjadi perusahaan yang sepenuhnya berorientasi pada keuntungan dan mengambil kendali penuh atasnya,” tetapi “para pendiri lain menolak menyerahkan kunci AI kepada satu orang.”

Musk mengatakan dalam kesaksiannya bahwa ia selalu terbuka terhadap gagasan untuk mendirikan anak perusahaan nirlaba OpenAI, asalkan laba dibatasi dan setiap uang yang dihasilkan akan disalurkan ke organisasi nirlaba. 

Salah satu ide yang dibahas saat itu adalah memberikan pembagian saham yang sama kepada empat pemimpin utama di OpenAI dalam entitas yang berorientasi pada keuntungan tersebut. Kelompok tersebut akan mencakup Musk, Altman, Brockman, dan Ilya Sutskever, yang merupakan kepala ilmuwan OpenAI.

Musk mengatakan bahwa ia merasa hal itu akan “tidak adil dan tidak pantas,” mengingat dirinya yang “menyediakan seluruh pendanaan” hingga saat itu. Musk berharap dapat memegang saham mayoritas di OpenAI yang berorientasi profit — sebuah posisi yang ia perkirakan akan melemah dengan cepat seiring bertambahnya jumlah investor.

Saat ini, lembaga nirlaba OpenAI tetap mengendalikan organisasi tersebut. Sebagai bagian dari konversi menjadi perusahaan komersial tahun lalu, perusahaan tersebut menyatakan bahwa OpenAI akan terus diawasi oleh entitas nirlaba, yang kini disebut OpenAI Foundation. Lembaga nirlaba tersebut juga menerima 26% saham di perusahaan. Microsoft mendapatkan 27% saham. 

Microsoft jadi mitra strategis OpenAI. (Dok: Bloomberg)

Russell Cohen, kuasa hukum Microsoft, mengatakan konflik ini tidak ada hubungannya dengan mereka, yang menurutnya “telah menjadi mitra yang bertanggung jawab di setiap langkahnya.” 

“Bersama-sama, Microsoft dan OpenAI telah membantu mendanai salah satu organisasi nirlaba terbesar dalam sejarah,” katanya kepada juri.

“Tidak seperti Musk, Microsoft tidak pernah mencoba mengendalikan OpenAI. Microsoft melihat kemitraan tanpa kontrol. Microsoft melihat kemitraan yang dapat menguntungkan semua pihak,” kata Cohen.

Juri akan mendengarkan kesaksian dari sederet saksi penting dan diminta untuk menelaah email, pesan teks, serta dokumen perusahaan yang sudah bertahun-tahun lamanya dari para pendiri OpenAI.

Juri akan mengeluarkan “putusan penasihat” setelah kesaksian selesai. Putusan akhir mengenai gugatan Musk — serta ganti rugi apa pun — akan dikeluarkan oleh Gonzalez Rogers, dengan menggunakan temuan juri sebagai pedoman.

(bbn)

No more pages