Kapal tersebut terdaftar sebagai milik divisi tanker dari konglomerat energi Jepang, Idemitsu Kosan Co, dan saat ini memberi sinyal “untuk dipesan,” sebuah sebutan umum yang menunjukkan bahwa kapal tersebut mungkin belum memiliki pembeli atau tujuan.
Seorang juru bicara perusahaan mengatakan bahwa demi alasan keamanan, Idemitsu tidak akan berkomentar mengenai status kapal-kapal individu.
Pelacakan kapal di Selat Hormuz mungkin tidak secara akurat menangkap semua transit karena beberapa kapal mematikan transpondernya, dan sinyal di wilayah tersebut dapat terganggu.
Pemantauan kapal di Selat Hormuz mungkin tidak secara akurat mencatat semua perjalanan, karena beberapa kapal mematikan transponder mereka, dan sinyal di wilayah tersebut dapat terganggu.
Lintasan kapal tanker milik Jepang ini menandai perubahan pendekatan oleh perusahaan penyulingan minyak dan pemilik kapal di negara tersebut, yang umumnya cenderung konservatif.
Upaya Idemitsu Maru juga patut diperhatikan karena merupakan salah satu kapal tanker terbesar yang melakukannya sejak AS memulai blokade tandingan terhadap Iran dua minggu lalu. Selama periode tersebut, lalu lintas di selat tersebut tetap mendekati nol.
Meski Jepang sangat bergantung pada minyak mentah Timur Tengah, para pemilik kapal di sana tetap berhati-hati di tengah ketegangan.
Idemitsu, di antara perusahaan penyulingan minyak lainnya, mengandalkan transfer antarkapal untuk memperoleh sebagian muatan, yang dilakukan jauh di luar Teluk Persia. Mereka juga beralih membeli pasokan alternatif dari AS yang diangkut dengan kapal tanker berukuran lebih kecil.
Beberapa kapal terkait dengan Jepang telah melakukan pelayaran selama perang, meski terbatas pada muatan komoditas lain. Awal bulan ini, sebuah kapal pengangkut gas petroleum cair (LPG) yang dimiliki bersama oleh pemilik kapal Jepang lainnya berhasil keluar melalui jalur yang difasilitasi oleh India.
(bbn)




























