"Kita dari pemerintah pusat akan mendorong. Dan saya akan turunkan bantuan langsung untuk kita kembangkan, perbaiki, dan bikin lebih efektif," kata Prabowo.
"Semua kita kembangkan, sampah pengolahan sampah sekarang jadi prioritas nasional dalam dua tiga tahun kita harus kendalikan sampah seluruh indonesia."
TPST BLE Kabupaten Banyumas mengklaim mampu mengelola 77,7% sampah yang diproduksi masyarakat; atau sekitar 574,52 ton dari total 738,8 ton per hari.
Pemkab Banyumas mengklaim tak mengelola secara langsung sampah masyarakat karena diserahkan pada Kelompok Swadaya Masyarakat (KSM). Tiap rumah tangga berlangganan pengelolaan sampah ke Kelompok Swadaya Masyarakat (KDM) dengan iuran Rp15.000-50.000 per bulan. Total pendapatannya mencapai Rp15 miliar per tahun.
Dalam skemanya, sampah rumah tangga wajib dipilah secara mandiri oleh masyarakat atau pun bank sampah. Seluruh sampah tersebut kemudian dikirimkan ke TPST, TPS3R atau Pusat Daur Ulang Sampah yang dikelola KDM. Pada saat ini, Kabupaten Banyumas setidaknya memiliki lebih dari 60 pengelolaan sampah di 27 kecamatan.
Di tempat pengolahan sampah, petugas kembali memilah dengan membagi sampah sesuai nilai sampah seperti high value seperti botol plastik dan sampah daur ulang lainnya; atau low value yang tak bisa lagi didaur ulang seperti kain, popok, pembalut, sepatu, sandal, dan lainnya.
Dengan kemampuan kelola 3,5 ton dalam 30 menit, TPST mampu menghasilkan beberapa produk seperti RDF, paving, dan genteng. TPST pun telah memiliki sejumlah offtaker produk RDF seperti Pabrik Semen Bima Banyumas dan Cilacap Semen Indonesia Group. Pendapatan dari penjualan RDF telah mencapai Rp2 miliar per tahun.
Mereka juga menggandeng perusahaan Malaysia untuk menyerap produk plastik yang bisa diubah menjadi pavin atau lantai palet. TPST saat ini tengah menggandeng pemerintah pusat dan pemerintah daerah untuk menyerap produk paving dan genteng yang diklaim memiliki kekuatan dan daya tahan tinggi. Harga satuan paving dipatok sekitar Rp2.500; sedangkan genteng senilai Rp7.000-8.500 tergantung desainnya.
Selain itu, TPST juga memilah sampah organik yang dikenal sebagai bubur sampah. Jenis ini dikelola menggunakan Maggot yang bisa dijual dalam bentuk hidup atau kering. Produk ini cukup laris sebagai pakan ternak yang berkualitas.
(dov/frg)





























