Sebelumnya, Badan Pengelola Investasi (BPI) Danantara resmi melakukan peletakan batu pertama atau groundbreaking empat proyek hilirisasi di sektor energi, dari total enam proyek hilirisasi yang diresmikan pada tahap awal. Proyek hilirisasi pertama yakni fasilitas pengolahan dan pemurnian aluminium dan smelter grade alumina refinery (SGAR) di Mempawah, Kalimantan Barat.
Selain itu, Danantara turut memulai proyek kilang bioavtur garapan Pertamina di Cilacap, Jawa Tengah. Pabrik tersebut memiliki kapasitas produksi sekitar 6.000 barel per hari atau sekitar 300.000 kiloliter (kl) per tahun. Kilang tersebut bakal mengolah bioavtur dengan minyak sawit mentah atau crude palm oil (CPO), used cooking oil (UCO) atau minyak jelantah, dan palm oil mill effluent (POME).
Proyek hilirisasi berikut yakni, pabrik Bioetanol Glenmore, Banyuwangi, Jawa Timur dengan kapasitas produksi bioetanol sebesar 30.000 kl per tahun.
Proyek hilirisasi berikutnya yakni, fasilitas integrated poultry atau budidaya unggas yang pada tahap awal berada di enam titik yakni, Malang, Gorontalo, Lampung, Sulawesi Selatan, Kalimantan Timur dan Sumbawa. Ada pun, proyek hilirisasi unggas tersebut nantinya akan berada di 30 lokasi. Pabrik peternakan ayam pedaging dan petelur terintegrasi tersebut sempat diklaim memiliki nilai investasi mencapai Rp20 triliun.
Proyek hilirisasi terakhir yakni pabrik Garam dan MVR di Gresik, Manyar dan Sampang, Madura. Serta, proyek garam olahan Segoro Madu II. Proyek pabrik garam di Sampang memiliki kapasitas produksi sebesar 200 ribu ton per tahun dengan nilai investasi Rp2 triliun.
Sekadar catatan, nilai 18 proyek yang disodorkan Satgas Hilirisasi itu mencapai US$38,63 miliar atau sekitar Rp640,4 triliun (asumsi kurs Rp16.578 per dolar AS). Dari 18 proyek yang diajukan, 8 di antaranya program hilirisasi di sektor mineral dan batu bara (minerba), masing-masing 2 proyek di sektor transisi dan ketahanan energi, dan masing-masing 3 proyek di sektor pertanian, kelautan dan perikanan.
(dov/frg)


























