"Skemanya ini sedang di fine tuning-nya, tetapi memang nanti disampaikan langsung oleh Pak Menko Infra," jelasnya.
Pada kesempatan sebelumnya, COO BPI Danantara Dony Oskaria mengungkap perkembangan isu rencana Kementerian Keuangan untuk mengambil alih konsorsium Whoosh.
Dony mengatakan ada sejumlah skema restrukturisasi, termasuk pengambilalihan oleh Kemenkeu. "Tentunya ada sejumlah skema, akan kami update setelah final," ujarnya, Selasa (7/4/2026).
Meski belum memberikan rinician skema pengambilalihan, Dony memastikan prosesnya akan tuntas dalam waktu dekat. "Iya, satu atau dua bulan lagi akan beres," imbuhnya.
Yang terang, restrukturisasi Whoosh nanti hanya menyisakan anggota konsorsium yang memang memiliki core bisnis yang sesuai.
"Kami kembalikan semua ke porsinya. Misal, WIKA bukan bidangnya di situ, karena WIKA fokus ke kontraktor. Satu per satu kami bereskan, kami maunya semua yang diselesaikan tuntas."
Sekadar catatan saja, konsorsium proyek Whoosh melibatkan sejumlah BUMN, antara lain PT KAI, PT Wijaya Karya Tbk (WIKA), dan PT Jasa Marga Tbk (JSMR), dengan toital nilai investasi proyek mencapai US$7,2 miliar, termasuk pembengkakan biaya atau cost overrun sekitar US$1,2 miliar.
Proyek ini dibiayai melalui skema 75% pinjaman dari China Development Bank (CDB) dan 25% setoran modal pemegang saham, yakni PT Pilar Sinergi BUMN Indonesia (PSBI) sebesar 60% serta Beijing Yawan HSR Co. Ltd. sebesar 40%.
Untuk menutup cost overrun, pemerintah menyuntikkan PMN Rp3,2 triliun ke KAI, sementara CDB menambah pinjaman sebesar US$448 juta yang kemudian diteruskan ke KCIC. Secara total, utang proyek mencapai sekitar Rp79 triliun dengan bunga awal 3,4% per tahun, atau setara beban bunga US$120,9 juta per tahun.
Studi KCIC dan KAI memperkirakan pengembalian investasi membutuhkan waktu 38 tahun, sedangkan pemerintah menghitungnya dalam kisaran 30–40 tahun.
(prc/ros)
































