Logo Bloomberg Technoz

BMI meramalkan produksi nikel olahan pada tahun ini bakal tumbuh sebesar 9,8%, lebih tinggi dari pertumbuhan 2025 sebesar 9%. 

Kondisi tersebut salah satunya didorong oleh pertumbuhan pasokan dari Indonesia, yang diprediksi bakal menopang dinamika harga nikel pada tahun ini.

“Meskipun risiko di sisi pasokan masih berlanjut, harga nikel diperkirakan akan tetap terkendali, tetapi didukung secara struktural, dengan pertumbuhan surplus yang melambat pada 2026 dan membaiknya sentimen di sisi pasokan yang menopang level harga akhir tahun yang lebih tinggi dibandingkan dengan 2025,” kata BMI.

BMI mencatat harga logam nikel diperdagangkan pada level yang tinggi pada Januari hingga mencapai rekor tertinggi tahun ini, sebelum akhirnya kehilangan momentum setelah meletusnya konflik antara Amerika Serikat (AS)–Israel dengan Iran.

Harga logam nikel tercatat naik 2,5% secara year to date (ytd), ditutup di level US$17.241 per ton pada 10 April. Meskipun begitu, harga logam nikel sudah turun 4,8% dari level sebelum konflik, seiring melemahnya sentimen makroekonomi.

“Untuk sisa tahun ini, meskipun perkembangan geopolitik di Timur Tengah diperkirakan akan terus memengaruhi sentimen pasar, prospek harga nikel kemungkinan besar akan tetap didominasi oleh dinamika sisi pasokan di Indonesia,” ungkap BMI.

Sentimen harga nikel./dok. BMI

BMI mengungkapkan pada kuartal I-2026 dinamika harga nikel mencerminkan risiko dari sisi pasokan dan perkembangan makroekonomi.

Langkah Indonesia memangkas kuota produksi bijih nikel menjadi sekitar 260—270 juta ton dari tahun lalu sebesar 379 juta ton diakui memberikan sentimen positif bagi pasar.

Kendati begitu, pelemahan harga logam nikel yang terjadi belakangan gegara konflik di Timur Tengah menjadi sorotan utama.

Ketidakpastian geopolitik di wilayah tersebut memiliki implikasi bagi rantai pasok dan kondisi makroekonomi, yang akan terus membentuk pergerakan harga di pasar logam.

“Meskipun kami memperkirakan pergerakan harga nikel akan didorong terutama oleh perkembangan pasokan di Indonesia, harga diperkirakan tetap volatil dan sangat sensitif terhadap perkembangan di Timur Tengah,” tulis BMI.

Konflik Timteng

BMI memprediksi konflik yang masih terjadi di Timur Tengah memberikan dampak berlapis terhadap pasar nikel global, dengan kecenderungan mendorong harga ke arah kenaikan.

Risiko tersebut terutama muncul dari potensi gangguan pada pasokan bahan baku utama serta meningkatnya biaya energi.

BMI mencatat smelter high pressure acid leach (HPAL) di Indonesia yang menjadi tulang punggung pertumbuhan produksi nikel nasional sangat bergantung pada pasokan sulfur impor, sekitar 67% kebutuhan sulfur Indonedia didapatkan dari kawasan Timur Tengah.

Gangguan distribusi akibat konflik berpotensi membuat pasokan sulfur menjadi ketat, yang pada akhirnya meningkatkan biaya produksi smelter HPAL dan menahan pertumbuhan pasokan nikel dunia.

Ekspor sulfur Timur Tengah ke Indonesia./dok. BMI

Di sisi lain, lonjakan biaya energi sejak awal konflik turut menekan industri nikel secara global. Kenaikan harga energi berdampak langsung pada struktur biaya, baik bagi operasional smelter HPAL maupun smelter pirometalurgi berteknologi rotary kiln electric furnace (RKEF).

“Faktor-faktor ini memperkuat risiko kenaikan harga nikel, meskipun ketidakpastian makroekonomi yang meningkat dan kelebihan pasokan yang terus berlanjut akan membatasi ruang lingkup untuk kembali ke level tertinggi awal 2026 secara berkelanjutan,” tulis BMI.

Saat ini Indonesia menjadi produsen nikel nomor wahid dunia, pada tahun lalu Forum Industri Nikel (FINI) mengestimasikan produksi logam nikel kelas 1 dan kelas 2 sepanjang 2025 mencapai 2,46—2,5 juta ton, meningkat dari realisasi produksi 2024 sebanyak 2,2 juta ton.

Berdasarkan catatan FINI, kapasitas terpasang fasilitas pabrik pengolahan nikel di Indonesia mencapai sebesar 2,8 juta ton nikel, yang terdiri atas 2,3 juta ton smelter RKEF dan 500.000 ton smelter HPAL.

(azr/wdh)

TAG

No more pages

Artikel Terkait