Sentimen positif bagi harga emas datang dari dinamika di Timur Tengah. Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump terlihat akan segera mengakhiri perang melawan Iran. Sebagaimana diwartakan Bloomberg News, Trump menyatakan perang kemungkinan akan selesai dalam waktu 2-3 pekan ke depan.
Presiden Iran Masoud Pezeshkian pun telah menulis surat terbuka. Dalam surat tersebut, Pezeshkian menyebut bahwa rakyat Iran tidak membenci negara lain. termasuk AS, Eropa, dan negara-negara tetangga.
“Memandang Iran sebagai ancaman tidak konsisten dengan kenyataan dan fakta. Persepsi seperti ini adalah produk dari nafsu politik dan ekonomi dari para penguasa, yang membutuhkan musuh untuk membenarkan tekanan, dominasi, dan kendali. Dalam situasi seperti ini, ancaman hanya dibuat-buat,” tegas Pezeshkian.
Apa yang dilakukan Iran sepanjang perang, menurut Pezeshkian, adalah upaya mempertahankan diri. Teheran tidak memulai perang atau agresi.
Jika perang terus berlanjut, tambah Pezeshkian, maka akan berdampak terhadap kehidupan rakyat Iran. “Perang mengorbankan kehidupan, rumah, kota, dan masa depan rakyat yang tidak bersalah,” sebutnya.
Iran, demikian Pezeshkian, akan terus berupaya untuk bernegosiasi, mencapai kesepakatan, dan mematuhi komitmen. Melanjutkan jalan konfrontasi hanya akan menambah biaya dan kekerasan.
“Pilihan antara konfrontasi dan kesepakatan akan menentukan masa depan bagi generasi yang akan datang,” tulisnya.
Munculnya asa perdamaian di Timur Tengah membuat harga minyak jatuh. Kemarin, harga minyak jenis brent ambruk 2,7% ke US$ 101,16/barel.
Koreksi harga minyak (jika berkelanjutan) akan menurunkan risiko inflasi. Dengan demikian, bank sentral di berbagai negara akan punya ruang untuk melonggarkan kebijakan moneter.
Emas adalah aset yang tidak memberikan imbal hasil (non-yielding asset). Memegang emas menjadi lebih menguntungkan saat suku bunga turun.
(aji)






























