Logo Bloomberg Technoz

Melihat peluang tersebut, keluarga mencoba mengolah bandeng sendiri dan menjualnya secara sederhana di depan rumah. Usaha ini resmi dimulai pada 3 Januari 1981 dengan skala yang masih sangat kecil.

“Bukan toko besar seperti sekarang, melainkan hanya sebuah stand kecil yang menempel di rumah yang juga berfungsi sebagai tempat tinggal sekaligus praktik dokter” ungkapnya.

Perjalanan usaha tersebut berkembang cukup pesat dalam waktu singkat. Pada tahun 1984, usaha yang semula hanya berupa stand kecil berhasil berkembang menjadi toko oleh-oleh yang lebih mapan.

Produk utama yang ditawarkan tetap bandeng duri lunak atau bandeng presto. Cita rasa khas dan kualitas produk menjadi kunci utama dalam menarik minat pelanggan dari berbagai daerah.

Kolaborasi dan Inovasi Dorong Pertumbuhan

Seiring waktu, Bandeng Juwana Elrina tidak berhenti berinovasi. Berbagai varian olahan bandeng mulai diperkenalkan untuk memenuhi selera konsumen yang semakin beragam.

Kini pelanggan dapat menemukan produk seperti bandeng asap, bandeng dalam sangkar, otak-otak bandeng, hingga boneless bandeng. Diversifikasi ini menjadi strategi penting dalam menjaga daya saing usaha.

Jason menyadari bahwa mengandalkan satu jenis produk saja tidak cukup untuk bertahan dalam industri oleh-oleh yang kompetitif. Oleh karena itu, inovasi terus dilakukan dengan menghadirkan produk lain di luar olahan bandeng.

"Bandeng masih jadi produk yang utama, tapi kalau hanya jualan bandeng, tentu akan sulit bersaing dengan yang lain. Jadi, kita berinovasi dengan memproduksi wingko babat, lumpia, tahu bakso, dan bakpia," ujar Jason.

Tidak hanya fokus pada produksi internal, Bandeng Juwana Elrina juga membuka peluang bagi pelaku UMKM lokal. Berbagai produk khas daerah kini turut dipasarkan di toko tersebut.

Mulai dari moci, jenang, keripik, hingga abon dapat ditemukan dalam satu lokasi. Konsep ini menjadikan toko tersebut sebagai pusat oleh-oleh terpadu bagi pengunjung.

“Jadi idenya adalah kalau orang datang ke Bandeng Juwana, cari oleh-olehnya ya sudah di sini saja,” ujar Jason.

Dalam menjalankan bisnisnya, Bandeng Juwana Elrina juga menjalin kolaborasi strategis dengan berbagai pihak, termasuk BRI. Dukungan yang diberikan mencakup pembiayaan hingga pendampingan usaha.

BRI turut membantu dalam pelatihan pengelolaan keuangan serta pengurusan berbagai perizinan seperti PIRT dan sertifikasi halal. Dukungan ini memperkuat fondasi usaha agar dapat berkembang lebih berkelanjutan.

Di area toko juga tersedia BRI Corner yang menawarkan berbagai produk kerajinan dan pernak-pernik. Kehadiran fasilitas ini menambah daya tarik bagi pengunjung.

Kolaborasi tersebut juga menghadirkan berbagai program promosi menarik. Pelanggan dapat menikmati keuntungan seperti cashback, tukar poin, hingga program tebus murah.

Momentum Ramadan dan Lebaran memberikan dampak signifikan terhadap peningkatan jumlah pengunjung. Namun menariknya, puncak keramaian justru terjadi setelah Hari Raya Idulfitri.

“Kalau Lebaran itu ramainya justru setelah Lebaran, saat arus balik. Orang-orang yang kembali ke kota asal biasanya mampir membeli oleh-oleh,” kata Jason.

Fenomena ini menunjukkan bahwa arus balik menjadi periode penting bagi pelaku usaha oleh-oleh. Para pemudik memanfaatkan momen tersebut untuk membeli buah tangan sebelum kembali ke kota asal.

Di sisi lain, BRI menegaskan komitmennya dalam mendukung pelaku usaha di berbagai daerah. Corporate Secretary BRI Dhanny menyampaikan bahwa dukungan tersebut bertujuan untuk meningkatkan kapasitas usaha.

“Kisah dari pelaku usaha Bandeng Juwana Elrina di Semarang menjadi salah satu contoh dengan pendanaan usaha dan pemberdayaan dari BRI, pelaku usaha bisa terus berkembang usahanya dan menjadi kisah inspiratif yang dapat direplika oleh pelaku usaha di daerah lainnya” imbuhnya

Dengan sinergi antara pelaku usaha dan lembaga keuangan, ekosistem bisnis lokal diharapkan semakin kuat. Kisah Bandeng Juwana Elrina menjadi bukti bahwa usaha yang dimulai dari skala kecil dapat berkembang menjadi ikon daerah.

Ke depan, inovasi dan kolaborasi diyakini akan tetap menjadi kunci utama dalam menjaga keberlanjutan usaha. Terlebih di tengah meningkatnya mobilitas masyarakat saat musim mudik Lebaran.

(tim)

No more pages