Di sisi lain, penjualan tembaga dalam bentuk konsentrat juga mengalami penurunan cukup dalam menjadi US$2,69 miliar dari US$3,73 miliar pada 2024.
Kemudian penjualan perak dalam konsentrat tercatat sebesar US$83,85 juta serta plat tembaga tercatat anjlok dari sebelumnya sebesar US$3,03 miliar menjadi hanya sebesar US$2,61 miliar.
Meski pendapatan turun, beban penjualan justru meningkat dari sebelumnya sebesar US$4,45 miliar menjadi sebesar US$4,71 miliar.
Sejalan dengan penurunan pendapatan, laba kotor Freeport turun menjadi US$3,91 miliar atau setara Rp65,3 triliun dari US$5,86 miliar.
Laba usaha juga menyusut menjadi US$3,78 miliar dari US$5,74 miliar pada tahun sebelumnya.
Dari sisi kontribusi ke negara, penerimaan negara bukan pajak (PNBP) sebesar 4% tercatat sebesar US$112 juta atau sekitar Rp1,87 triliun, turun dari US$183,8 juta pada 2024.
Sementara itu, pendapatan untuk pemerintah daerah sebesar 6% tercatat US$168,6 juta atau sekitar Rp2,81 triliun, juga turun dari tahun sebelumnya.
Penurunan laba juga tercermin dari laba per saham (earnings per share/EPS) yang turun menjadi US$6.670,99 dari US$10.907,38 pada 2024.
Produksi 2025 Turun
Sebelumnya, Bloomberg Technoz melaporkan produksi PTFI sepanjang 2025 relatif lebih rendah dibandingkan dengan periode 2024. Alasannya, terjadi kecelakaan pada tambang bawah tanah Grasberg pada sejak September 2025 lalu.
Menurut keterbukaan informasi Freeport McMoRan Inc. (FCX), PTFI memproduksi 1,01 miliar pon tembaga sepanjang 2025.
Capaian ini turun sekitar 44% dibandingkan produksi tahun 2024 yang mencapai 1,8 miliar pon.
Dari sisi penjualan, volume tembaga pada 2025 tercatat sebesar 1,2 miliar pon, lebih rendah 26,2% dibandingkan realisasi 2024 yang mencapai 1,63 miliar pon.
Untuk komoditas emas, produksi sepanjang 2025 tercatat sebesar 937.000 ons, merosot 49,7% dibandingkan tahun sebelumnya yang mencapai 1,86 juta ons.
Penjualan emas juga mengalami penurunan menjadi 1,05 juta ons, atau turun 42,2% dari 1,81 juta ons pada 2024.
Meski demikian, dari sisi harga terjadi tren kenaikan. Harga tembaga rata-rata pada 2025 tercatat sebesar US$4,53 per pon, meningkat 8,1% dibandingkan 2024 yang berada di level US$4,19 per pon.
Sementara itu, harga emas melonjak signifikan menjadi US$3.418 per troy ons, naik 41,4% dari US$2.418 per troy ons pada tahun sebelumnya.
Manajemen FCX menjelaskan bahwa penurunan produksi dipicu oleh terhentinya operasi tambang bawah tanah Grasberg Block Cave (GBC) pada September 2025 akibat insiden banjir lumpur.
Dalam kondisi normal, operasi bawah tanah PTFI mampu memproduksi sekitar 1,7 miliar pon tembaga dan 1,3 juta ons emas per tahun, sekaligus menjadi salah satu operasi tambang dengan biaya terendah di dunia.
(art/naw)




























