Logo Bloomberg Technoz

Jejak Bisnis

Mengutip Bloomberg Billionaires Index, nama Bambang Hartono berada di urutan ke-196 orang terkaya di dunia dengan estimasi kekayaan mencapai US$14,7 miliar.

Sebagian besar kekayaan Michael Hartono berasal dari kepemilikan 49% saham PT Dwimuria Investama Andalan, kendaraan investasi Hartono bersaudara. Sementara adiknya, Robert Hartono, memegang sisa kepemilikan saham Dwimuria Investama Andalan.

Melalui perusahaan holding itu, Michael Hartono memiliki 28% saham PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia (BEI), bank terbesar di Indonesia berdasarkan kapitalisasi pasar, menurut laporan bursa Februari 2026.

Bank BCA (Dimas Ardian/Bloomberg)

Bambang Hartono juga menguasai 32% saham operator menara telekomunikasi PT Sarana Menara Nusantara Tbk (TOWR) lewat PT Sapta Adhikari Investama.

Selain itu, Michael turut memiliki 34% saham PT Global Digital Niaga Tbk (BELI), perusahaan yang mengoperasikan platform e-commerce Blibli.

Selain BBCA & BELI, Bambang Hartono dan adiknya juga memiliki lini bisnis elektronik lewat PT Hartono Istana Teknologi. Perusahaan itu memegang merek Polytron dan Digitec.

Selain produk elektronik, Polytron juga sudah masuk ke pasar sepeda motor listrik.

Kedua bersaudara itu juga mewarisi Djarum, raksasa produsen rokok kretek di Indonesia. Menurut analisa Bloomberg Billionaires Index, kepemilikan saham di Djarum dibagi masing-masing 50% antara Michael dan Robert, sejalan dengan kepemilikan mereka di perusahaan holding.

Djarum memproduksi sekitar 20% rokok yang dijual di Indonesia pada 2024, menurut data Euromonitor. Pendapatannya diperkirakan sekitar $5,7 miliar, berdasarkan rasio pangsa pasar terhadap pendapatan pesaing terdekatnya, Gudang Garam.

Penilaiannya menggunakan rata-rata rasio nilai perusahaan terhadap EBITDA dan price-to-earnings milik Gudang Garam.

Sebuah liabilitas dimasukkan untuk mencerminkan nilai bersih investasi kas Hartono setelah dikurangi pembelian aset. Dividen, pajak, kinerja pasar, dan kegiatan filantropi juga diperhitungkan.

Mengutip Bloomberg Billionaires Index, Mutiara Asmara, juru bicara Djarum, menolak memberikan komentar mengenai kekayaan bersih Hartono.

Warisan Awal

Ayah Hartono bersaudara, Oei Wie Gwan, memulai pabrik rokok Djarum dari sebuah bengkel di Kudus, Jawa Tengah, Indonesia, di mana dia mencampur tembakau dengan cengkeh, rempah khas Indonesia.

Saat tidak mempromosikan dan menjual Djarum di jalanan Kudus, Oei menggulung rokok—yang dikenal sebagai kretek karena bunyi berderak dari rempah aromatik yang terbakar—di lantai bengkel.

Kebakaran hampir menghancurkan pabrik rokok perusahaan pada 1963. Robert Budi Hartono dan Michael Bambang Hartono mengambil alih bisnis tersebut setelah ayah mereka meninggal pada tahun yang sama.

Mereka membangun kembali dan memodernisasi Djarum, termasuk mendirikan pusat riset dan pengembangan untuk menciptakan campuran kretek baru. Kedua bersaudara mulai mengekspor rokok mereka pada 1972.

Saat ini, sekitar 60.000 pekerja di pabrik mereka di Kudus menggulung rokok kretek Djarum secara manual, yang sebagian besar dijual kepada konsumen berpenghasilan rendah.

Kedua bersaudara menciptakan kretek buatan mesin pertama mereka, Djarum Filter, pada 1976. Mereka memperkenalkan Djarum Super yang diproduksi dengan mesin pada 1981, yang kini menjadi salah satu merek paling populer di Indonesia.

Produk tembakau merupakan pos pengeluaran rumah tangga terbesar ketiga terkait makanan di Indonesia setelah makanan olahan dan beras, menurut statistik pemerintah.

Sebagai pasar tembakau terbesar kelima di dunia berdasarkan jumlah rokok yang terjual, Indonesia adalah satu-satunya negara di Asia yang belum menandatangani Framework Convention on Tobacco Control dari Organisasi Kesehatan Dunia.

Kedua bersaudara bekerja sama dengan Farallon Capital, hedge fund berbasis di San Francisco, untuk membeli 51% saham Bank Central Asia yang diperdagangkan secara publik—perusahaan jasa keuangan terbesar di Indonesia berdasarkan nilai pasar—sebesar $860 juta pada 2001. Kepemilikan tersebut dibeli melalui kendaraan investasi Farindo Investment.

Farallon menjual sisa kepemilikannya di bank tersebut kepada keluarga Hartono pada 2009.

Kedua bersaudara juga berekspansi ke sektor properti pada 2004, ketika mereka memenangkan hak untuk mengembangkan kembali Hotel Indonesia dan Hotel Wisata, yang berada dalam satu kompleks di pusat Jakarta.

Mereka mengubah kawasan tersebut menjadi pusat perbelanjaan, perkantoran, hotel mewah, dan kompleks apartemen bernama Grand Indonesia.

Como sampai Bakmi GM

Grup Djarum melalui anak usahanya SENT Entertainment menjadi pemilik Klub Como 1907 pada 2019 dengan nilai investasi sekitar Rp10 miliar. Pada 2019 ketika dibeli Grup Djarum, Como 1907 masih menjadi penghuni Serie D di Liga Italia.

Sejak diakuisisi hingga 2022, Grup Djarum menggelontorkan dana investasi hingga 12 juta Euro agar Como berbenah. Alhasil, klub ini berada di peringkat 11 sementara Liga Serie B pada 2022.

Belakangan, Drup Djarum juga dilaporkan mengakuisisi 85% saham PT Griya Mie sejati, induk usaha dari Bakmi GM dengan nilai akuisisi Rp2 triliun-Rp2,4 triliun. Akuisisi itu ramai dilaporkan pada 2024 lalu.

(naw)

No more pages