Salah satu pengiriman, ke Taiwan, dihargai US$12 hingga $13 per barel lebih tinggi dari patokan Dated Brent, kata para pedagang. Kargo lain dihargai sekitar US$18 per barel di atas patokan Dubai, meski fluktuasi besar pada patokan minggu ini mempersulit proses penetapan harga. Hal ini dibandingkan dengan premi US$5 hingga US$6 per barel di atas Dubai dalam kesepakatan serupa yang dilakukan bulan lalu, sebelum perang.
Namun, minyak tersebut tidak akan memberikan solusi cepat bagi krisis saat ini di Asia. Pengiriman yang dimuat di AS pada April biasanya tidak akan sampai ke tujuan mereka hingga sekitar dua bulan setelahnya.
Pembeli meliputi berbagai kilang minyak di Jepang, Korea Selatan, Taiwan, Singapura, dan Thailand, kata para pedagang. Angka 60 juta barel tersebut masih bisa meningkat, karena waktu untuk membeli kargo yang dimuat pada April dari AS masih terbuka untuk sementara waktu.
AS biasanya mengekspor sekitar 110 juta barel per bulan, dengan sekitar setengahnya dikirim ke Eropa dan lebih dari sepertiganya menuju Asia, menurut Kpler dan Vortexa. Pembeli Asia membeli sekitar 35 juta barel minyak AS pada masing-masing dua bulan pertama tahun ini.
(bbn)



























