Saat ini beras yang beredar di masyarakat sekitar 11–12 juta ton, ditambah standing crop yang akan dipanen sekitar 12 juta ton. Total ketersediaan beras nasional mencapai sekitar 28 juta ton, yang setara dengan ketahanan pangan hingga 324 hari ke depan.
Pemerintah memproyeksikan surplus beras dapat diekspor ke negara-negara tetangga, seperti Papua Nugini dan Malaysia, sekaligus memenuhi kebutuhan jemaah haji dan umrah Indonesia.
Dalam hal harga, pemerintah menetapkan HPP di tingkat petani dan HET di tingkat pengecer. "Kalau di atas HET itu jangan lama-lama naiknya. Kalau terlalu murah, petani rugi; terlalu mahal, konsumen dirugikan. Pagi naik, siang atau sore sudah turun," jelas Sudaryono.
Satgas Pangan, yang melibatkan Kementerian Pertanian, Badan Pangan Nasional, dan Bareskrim Polri, memantau distribusi dan sentra produksi komoditas strategis. Sejauh ini, 89 distributor telah ditegur terkait pelanggaran harga, tetapi belum ada kasus yang berlanjut ke pidana.
Untuk meningkatkan produktivitas, pemerintah mengandalkan mekanisasi dan revitalisasi irigasi. Sudaryono menyatakan, "yang dihitung adalah luas panenan dalam setahun, bukan luas sawah. Produktivitas per hektare ditambah, dan dalam satu petak bisa ditanam lebih sering dalam setahun. Mekanisasi dan panen cepat memungkinkan lebih dari dua kali panen per tahun."
(rtd/ros)




























