Pada Januari lalu, DOJ merilis surat panggilan (subpoena) kepada The Fed sebagai bagian dari penyelidikan terkait pembengkakan biaya dalam proyek renovasi gedung. Saat itu, Powell menyebut alasan penyelidikan tersebut hanyalah dalih. Ia mengeklaim bahwa investigasi itu sebenarnya dipicu oleh penolakan The Fed untuk menetapkan suku bunga berdasarkan tuntutan Donald Trump.
Meski surat panggilan tersebut telah dibatalkan oleh hakim federal awal bulan ini, pihak DOJ menyatakan akan mengajukan banding atas keputusan tersebut.
Dokumen pengadilan yang dirilis bersamaan dengan keputusan hakim mengungkapkan bahwa Powell merasa terdorong untuk tetap menjabat setidaknya hingga proses hukum selesai. "Untuk mempertahankan independensi Federal Reserve, Gubernur Powell tidak bisa mengundurkan diri selama investigasi kriminal masih berjalan," tulis pengacara The Fed dalam dokumen hukum mereka.
Trump, yang sejak lama mendesak Powell dan The Fed untuk menurunkan suku bunga secara agresif, telah menominasikan mantan Gubernur The Fed Kevin Warsh sebagai pengganti Powell. Namun, proses tersebut terhambat oleh sejumlah senator Republik yang keberatan dengan investigasi yang sedang berlangsung. Thom Tillis, senator Republik dari North Carolina, menyatakan tidak akan memberikan suara untuk memajukan nominasi Warsh sampai masalah ini terselesaikan sepenuhnya.
Jika konfirmasi Warsh tertunda, Powell menyatakan siap untuk terus menjabat sebagai Gubernur pro-tempore (sementara), sebagaimana yang pernah ia lakukan pada tahun 2022 saat menunggu konfirmasi Senat untuk masa jabatan keduanya.
"Jika pengganti saya belum dikonfirmasi pada akhir masa jabatan saya sebagai gubernur, saya akan menjabat sebagai ketua pro-tem sampai dia dikonfirmasi," jelasnya. "Itulah yang diamanatkan oleh undang-undang."
Sebagai gubernur, Powell juga tetap berhak memimpin Komite Pasar Terbuka Federal (FOMC) yang menentukan suku bunga, sebuah posisi yang berpotensi memperpanjang pengaruhnya terhadap kebijakan moneter AS.
Pada pertemuan Rabu tersebut, The Fed memutuskan untuk mempertahankan suku bunga acuan pada kisaran 3,5% hingga 3,75% untuk kedua kalinya secara berturut-turut. Para pejabat bank sentral mengakui adanya peningkatan risiko ekonomi yang berkaitan erat dengan perang di Timur Tengah.
(bbn)

























