Para pembuat kebijakan akan merilis proyeksi ekonomi terbaru yang dapat mengungkap cara mereka menafsirkan data ekonomi terkini dan peristiwa geopolitik. Ekonom yang disurvei Bloomberg News memperkirakan The Fed akan merencanakan dua kali pemangkasan suku bunga masing-masing sebesar seperempat poin (25 bps) tahun ini, naik dari proyeksi satu kali pemangkasan pada Desember lalu.
Data yang dirilis sejak pertemuan Januari menunjukkan inflasi tetap tinggi bahkan sebelum konflik Timur Tengah menyebabkan lonjakan harga minyak. Sementara itu, kabar dari pasar tenaga kerja terpantau beragam: laporan Januari yang kuat diikuti oleh penurunan tajam jumlah penggajian (payrolls) yang mengejutkan pada Februari.
Proyeksi pejabat The Fed terhadap inflasi, PDB, dan tingkat pengangguran akan menjadi kunci untuk melihat sejauh mana guncangan harga minyak memengaruhi ekonomi dalam jangka panjang.
Pernyataan Kebijakan
Komite Pasar Terbuka Federal (FOMC) kemungkinan besar akan menyinggung konflik Iran dalam pernyataan mereka, sebagai bentuk pengakuan atas ketidakpastian geopolitik dan ekonomi AS. Pejabat The Fed juga perlu memperbarui deskripsi pasar tenaga kerja untuk mereferensikan fluktuasi penyerapan tenaga kerja baru-baru ini.
Notulensi pertemuan Januari menunjukkan beberapa pejabat mendukung bahasa yang mengakui risiko "dua arah" pada jalur suku bunga di masa depan, yang menyiratkan keterbukaan untuk menaikkan bunga jika inflasi tetap tinggi. Namun, data lapangan kerja yang lemah dan ketidakpastian perang Iran mungkin akan mengurangi dukungan terhadap kenaikan suku bunga tersebut.
Deputi Gubernur The Fed Stephen Miran menyatakan akan memberikan suara berbeda jika suku bunga tetap ditahan pekan ini, seiring upayanya mendorong pemangkasan bunga lebih cepat. Sementara itu, Deputi Gubernur Christopher Waller dan Wakil Ketua Bidang Pengawasan Michelle Bowman mungkin juga akan memberikan suara untuk penurunan suku bunga karena kekhawatiran terhadap pasar tenaga kerja yang rapuh.
Konferensi Pers
Dalam konferensi persnya, Powell diprediksi akan menekankan bahwa otoritas moneter butuh lebih banyak waktu untuk melihat berapa lama konflik dengan Iran akan berlangsung dan menilai dampaknya terhadap pertumbuhan serta inflasi. Ia kemungkinan akan menyoroti tingginya tingkat ketidakpastian dan perlunya The Fed untuk tetap membuka segala opsi kebijakan.
Selain isu ekonomi, wartawan kemungkinan akan mencecar Powell terkait masa depannya di The Fed setelah masa jabatannya berakhir pada Mei mendatang. Donald Trump telah menominasikan Kevin Warsh untuk menggantikan Powell. Namun, konfirmasi Senat untuk Warsh masih terhambat oleh langkah Senator Republik Thom Tillis, yang berjanji tidak akan meloloskan Warsh hingga penyelidikan Departemen Kehakiman (DOJ) terhadap The Fed terkait biaya renovasi diselesaikan.
Meski hakim AS pekan lalu membatalkan panggilan paksa (subpoena) dari DOJ terhadap The Fed, Jaksa AS Jeanine Pirro bertekad untuk mengajukan banding. Belum jelas sejauh mana Powell akan menanggapi topik sensitif ini, mengingat ia selalu menghindar dalam beberapa konferensi pers terakhir.
(bbn)
































