Logo Bloomberg Technoz

Gangguan berkepanjangan terhadap ekspor dari kawasan ini mengancam akan memicu gelombang inflasi global.

Peta Selat Hormuz./dok. Bloomberg

Apa signifikansi Selat Hormuz?

Terletak di antara Iran di utara dan Uni Emirat Arab (UEA) serta Oman di selatan, Selat Hormuz menghubungkan Teluk Persia dengan Samudra Hindia.

Panjangnya hampir 100 mil (161 kilometer) dan lebarnya 21 mil di titik tersempitnya. Jalur pelayaran di setiap arah hanya selebar dua mil.

Selat ini merupakan jalur penting bagi pasar minyak, menangani sekitar seperempat perdagangan minyak dunia melalui jalur laut.

Arab Saudi, Irak, Iran, Kuwait, Bahrain, Qatar, dan UEA semuanya mengirimkan minyak mentah melalui Hormuz dan sebagian besar kargo mereka menuju Asia.

Negara-negara Teluk juga merupakan rumah bagi kilang-kilang yang menghasilkan volume besar diesel, nafta — yang digunakan untuk membuat plastik dan bensin — dan produk minyak bumi lainnya yang diekspor secara global melalui selat tersebut.

Asia mendapatkan sebagian besar sumber energinya dari Selat Hormuz./dok. Bloomberg

Jalur air ini juga sangat penting bagi pasar gas alam cair atau liquefied natural gas (LNG). Sekitar seperlima pasokan LNG dunia—sebagian besar dari Qatar—melewati jalur ini tahun lalu. Negara-negara Asia juga membeli sebagian besar bahan bakar superdingin itu yang dikirim dari Timur Tengah.

Selain energi, Selat Hormuz merupakan titik rawan bagi ekspor aluminium dan produk pertanian termasuk pupuk.

Gangguan ini terjadi ketika para petani di Belahan Bumi Utara akan mulai mengaplikasikan nutrisi ke ladang mereka, dan berisiko mendorong kenaikan harga tanaman dan inflasi pangan.

Bisakah Iran memblokir Selat Hormuz?

Berdasarkan Konvensi Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) tentang Hukum Laut, negara-negara dapat menjalankan kedaulatan hingga 12 mil laut (14 mil) dari garis pantai mereka — jarak yang lebih kecil daripada titik tersempit Selat Hormuz.

Mereka harus mengizinkan "lintasan damai" kapal asing melalui perairan teritorial ini dan tidak boleh menghalangi "lintasan damai" atau "lintasan transit" melalui selat yang digunakan untuk navigasi internasional.

Meskipun Iran menandatangani perjanjian ini pada 1982, perjanjian ini belum diratifikasi oleh parlemen negara tersebut.

Pemerintah Iran telah menyatakan selama periode ketegangan geopolitik yang meningkat sebelumnya bahwa mereka memiliki kemampuan untuk memberlakukan blokade angkatan laut. Iran telah menunjukkan bahwa mereka dapat menyebabkan kekacauan hanya dengan ancaman.

Mereka juga memiliki pilihan lain yang tidak memerlukan satu pun kapal perang mereka untuk meninggalkan pelabuhan.

Tindakan-tindakan ini berkisar dari gangguan ringan terhadap kapal dengan kapal patroli kecil dan cepat, hingga alternatif yang lebih ekstrem, seperti menyerang kapal tanker dengan rudal dan drone sehingga menjadi terlalu berbahaya bagi kapal komersial untuk melewati selat tersebut.

Kedalaman perairan yang dangkal berarti Iran juga dapat memasang ranjau laut, dan menurut Menteri Pertahanan Inggris John Healey, mereka "mungkin telah mulai" melakukannya.

Trump telah memperingatkan Republik Islam terhadap tindakan ini. AS mengatakan telah menghancurkan atau merusak lebih dari 30 kapal pemasang ranjau Iran.

Kapal-kapal modern rentan terhadap gangguan sinyal sistem penentuan posisi global (GPS) — taktik yang makin banyak digunakan oleh aktor negara dan non-negara di seluruh dunia untuk mengganggu navigasi.

Lebih dari 1.000 kapal di Teluk Persia telah terpengaruh oleh gangguan sinyal selama konflik saat ini, menurut perusahaan intelijen maritim Windward.

Seberapa realistis prospek pengawalan angkatan laut melalui Selat Hormuz?

Asuransi masih tersedia untuk kapal yang melintasi Selat Hormuz. Namun, karena kapal tanker terus diserang, para pemilik kapal sebagian besar enggan mengambil risiko kehilangan nyawa, kargo, dan kapal.

Beberapa kapal telah melakukan perjalanan melalui jalur air tersebut, dan beberapa pemerintah sedang mencoba untuk menegosiasikan jalur aman bagi kapal tanker.

Trump mengatakan bahwa AS dapat menyediakan pengawalan untuk kapal-kapal melalui jalur air tersebut "jika perlu."

Bantuan tersebut belum akan segera diberikan — angkatan laut AS mungkin siap untuk melakukan ini pada akhir Maret, menurut Menteri Energi AS Chris Wright — dan masih harus dilihat apakah perlindungan tersebut akan mencakup semua kapal, hanya kapal-kapal yang terkait dengan kepentingan AS, atau hanya kapal-kapal yang dimiliki atau berbendera AS.

Ada juga pertanyaan apakah ada cukup aset angkatan laut Amerika di wilayah tersebut untuk dapat mengawal kapal-kapal sambil terus menyerang Iran.

Trafik kapal di Selat Hormuz anjlok gegara perang./dok. Bloomberg

Trump mendorong negara-negara lain untuk membantu membuka kembali jalur air tersebut. Permintaan ini disambut dengan respons yang kurang antusias karena negara-negara tersebut waspada untuk terseret ke dalam perang yang lebih luas.

Presiden Prancis Emmanuel Macron sebelumnya mengusulkan misi maritim gabungan untuk mengawal kapal tanker dan kapal kontainer melalui Hormuz, meskipun hanya setelah fase "terpanas" konflik berlalu.

Operasi konvoi sangat kompleks, membutuhkan kombinasi aset laut dan udara untuk melindungi kapal dari drone, rudal, dan potensi ranjau. Lebar selat yang sempit membuat segalanya lebih sulit.

Bahkan jika pengawalan angkatan laut akhirnya disediakan dan mereka memberi kepercayaan kepada pengirim untuk melakukan perjalanan, masih dibutuhkan waktu berminggu-minggu untuk mengatasi kemacetan lalu lintas di kedua sisi jalur air.

Seberapa banyak produsen minyak dapat menghindari Selat Hormuz?

Kuwait, Qatar, dan Bahrain tidak memiliki jalur laut lain untuk ekspor mereka. Sebagian besar pengiriman minyak Iran dikirim melalui Pulau Kharg di Teluk Persia utara.

AS membom situs militer di pulau itu tetapi mengatakan tidak merusak infrastruktur minyak.

Arab Saudi, yang mengekspor minyak terbanyak melalui jalur air tersebut, mengalihkan pengiriman menggunakan pipa sepanjang 746 mil yang membentang di seluruh kerajaan menuju terminal di Laut Merah, tempat minyak dapat dimuat ke kapal untuk transportasi selanjutnya.

Pipa Timur-Barat dapat memompa hingga 7 juta barel minyak per hari ke pelabuhan Yanbu, dan Saudi Aramco bertujuan untuk meningkatkan kapasitas penuhnya.

Namun, Laut Merah jauh dari aman karena militan Houthi yang didukung Iran di Yaman telah mengancam akan melanjutkan serangan terhadap kapal di daerah tersebut.

UEA juga dapat menghindari Selat Hormuz sampai batas tertentu. Pipa Habshan-Fujairah membentang dari ladang minyaknya ke pelabuhan di sepanjang Teluk Oman, dan memiliki kapasitas untuk memindahkan 1,5 juta barel minyak mentah per hari.

Sekali lagi, ada risiko, karena pelabuhan Fujairah telah terganggu oleh serangan pesawat nirawak alias drone.

Fasilitas kilang dan terminal bahan bakar minyak di Timur Tengah./dok. Bloomberg

Irak memiliki jalur pipa yang membentang dari wilayah Kurdistan yang semi-otonom ke pelabuhan Ceyhan di Turki.

Namun, menurut orang-orang yang mengetahui langsung situasi tersebut, Irak telah menangguhkan ekspor melalui jalur ini sebagai tindakan pencegahan, karena infrastruktur energi Timur Tengah menjadi sasaran perang Iran.

Jalur pipa tersebut hanya dapat mengangkut minyak yang dipompa dari ladang di utara Irak, sehingga hampir semua ekspor minyak mentah negara itu dikirim melalui Selat Hormuz.

(bbn)

No more pages