Termasuk rencana elektrifikasi sejumlah jalur seperti Jakarta-Cikampek, Jakarta-Sukabumi, hingga Jakarta-Rangkasbitung.
"Nah ini Kalau dia [KAI] dibebani oleh sesuatu yang nanti Menjadi tidak sehat kan, iya konsep transformasi masal kita kedepan [tidak jalan]," tuturnya.
Pada kesempatan lain, Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa mengungkapkan restrukturisasi utang proyek kereta cepat Whoosh akan diumumkan oleh Presiden Prabowo Subianto. Purbaya memastikan pemerintah telah rampung membahas persoalan restrukturisasi utang tersebut.
“Itu rapatnya sudah putus, tapi nanti tinggal Pak Presiden atau pemerintah yang resmi mengumumkan, bukan saya,” kata Purbaya ditemui di kantornya, Jumat (13/3/2026).
Tak hanya itu, Bendahara Negara menegaskan rapat tersebut juga membahas mengenai langkah yang akan diambil pemerintah ke depannya.
“Tapi itu sudah clear langkah ke depan seperti apa. Tapi belum saatnya dibuka ke Anda [publik] sekarang, biar yang lebih tinggi yang memaparkan,” ujarnya.
Sekadar catatan saja, konsorsium proyek Whoosh melibatkan sejumlah BUMN, antara lain PT KAI, PT Wijaya Karya (Persero) Tbk (WIKA), dan PT Jasa Marga (Persero) Tbk (JSMR), dengan toital nilai investasi proyek mencapai US$7,2 miliar, termasuk pembengkakan biaya atau cost overrun sekitar US$1,2 miliar.
Proyek ini dibiayai melalui skema 75% pinjaman dari China Development Bank (CDB) dan 25% setoran modal pemegang saham, yakni PT Pilar Sinergi BUMN Indonesia (PSBI) sebesar 60% serta Beijing Yawan HSR Co. Ltd. sebesar 40%.
Untuk menutup cost overrun, pemerintah menyuntikkan PMN Rp3,2 triliun ke KAI, sementara CDB menambah pinjaman sebesar US$448 juta yang kemudian diteruskan ke KCIC. Secara total, utang proyek mencapai sekitar Rp79 triliun dengan bunga awal 3,4% per tahun, atau setara beban bunga US$120,9 juta per tahun.
Studi KCIC dan KAI memperkirakan pengembalian investasi membutuhkan waktu 38 tahun, sedangkan pemerintah menghitungnya dalam kisaran 30–40 tahun.
(ain)






























